Kamis, 15 September 2011

Arsy, Pusat Kendali Alam Semesta

Bismillahirrahmanirrahim... Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh...,

Beberapa kawan menafsirkan Arsy itu sebagai singgahsana. Sehingga kita sering kali membayangkan sebuah kursi singgahsana milik raja. Kita membayangkan Allah duduk diatas kursi itu. Kemudian kita terjebak kepada merendahkan sifat-sifatNya. Bagaimana tidak? Kalau kita membayangkan Allah duduk diatas singgahsana, berarti kan singgahsana itu lebih besar daripada Allah. DzatNya bisa ‘diwadahi’ oleh Arsy? Sungguh salah besar. Atau, jangan-jangan kita membayangkan bahwa Arsy itu adalah bagian dari unsure ketuhanan. (QS. Al Anbiyaa (21):22). “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai Arsy daripada apa yang mereka sifatkan”.

Sama sekali bukan seperti bayangan kita itu. Allah adalah pemilik Arsy. Bahkan penciptanya. Sehingga di dalam ayat yang lain Allah mengatakan, Allah adalah tuhannya Arsy. Berarti Arsy itu tunduk kepadaNya. Mengikuti perintahNya. Maha Suci Allah dari yang kita sifatkan. (QS. Al Mukminuun (23):116). “Maka Maha Tinggi Allah, Raja yang Sebenarnya; tidak ada Tuhan selain Dia, Tuhan Arsy yang mulia”.

Maka saya mempersepsikan Arsy secara lebih proporsional. Ia bukan singgahsana seperti yang kita bayangkan, melainkan pusat kendali seluruh alam semesta. Langit yang tujuh. Pusat kendali itu berada ‘diatas’ dimensi tertinggi yang dimiliki oleh langit ke tujuh. Malaikat pun tidak bisa masuk ke dalamnya. Hanya bisa keliling disekitarnya.

Itulah yang bakal disaksikan pada saat hari kiamat nanti. Manusia akan bisa mempersepsi langit ke tujuh yang dimensinya Sembilan. Para malaikat bekeliling di seputar Arsy. Tidak bisa masuk ke wilayah inti pusaran tersebut. Segala mahluk tidak akan mampu masuk kedalam karena bakal hancur tak berbentuk. Inilah Pusaran energi tertinggi di alam semesta, yang tidak bisa diukur lagi. Ia menjadi pusat dari seluruh pusaran maha raksasa yang melibatkan bertrilyun-trilyun materi, energi, ruang, waktu, dan informasi.

(QS. Az Zumar (39):75). “Dan kamu akan melihat malaikat-malaikat berlingkar disekeliling Arsy bertasbih sambil memuji Tuhannya; dan diberi putusan diantara hamba-hamba Allah dengan adil dan diucapkan : ‘Segala puji bagin Allah, Tuhan semesta alam’”.

Dalam konteks ilmu kosmologi, wilayah seperti ini dikenal sebagai back hole alias lubang hitam. Tidak ada seorang ilmuwan pun yang tahu, ada apa di dalam lubang hitam itu. Apa lagi dibalik keberadaan lubang hitam itu. Gravitasinya luar biasa dahsyat. Segala yang ada disekitarnya ditarik menuju pusat gravitasinya. Termasuk cahaya pun tidak bisa keluar dari lubang hitam itu. Cahaya hanya bisa bergerak dan berpusar di jarak tertentu, di bagian luar medan gravitasinya. Para ilmuwan mengarah kepada kepahaman ini, karena pusat alam semesta memang harus memiliki gravitasi luar biasa besarnya agar bisa mengendalikan gerak alam semesta yang berpusar dalam jarak bermilyar-milyar tahuncahaya. Dan jumlahnya materi, energi yang demikian raksasa.

Tidak ada benda apa pun di alam semesta yang gravitasinya bisa menandingi back hole. Karena itu bisa dipahami, kalau pendapat para ahli kosmologi mengarah kepada back hole sebagai pusat alam semesta.

Yang menarik, di pusat back hole itulah diperkirakan seluruh hukum alam semesta ini runtuh. Hitungan matematis dan pendekatan fisika tidak bisa digunakan lagi untuk memprediksi segala kondisinya. Karena semua kondisi menjadi kosong mutlak.

Jadi seluruh realitas di alam semesta ini ternyata sedang bergerak melingkari sebuah pusat yang kosong. “yang kosong” mengendalikan “yang berisi”. Keber-ADA-an berputar – putar di sekitar ke-TIDAK ADA-an. Inilah pasangan abadi dan serasi yang diciptakan oleh Allah dalam keseimbangan sempurna.

Alam semesta diciptakan dari “Ketiadaan” menjadi “Ada”, dan berkembang sampai kini. Suatu ketika nanti, segala yang “Ada” itu akan berhenti bergerak dan kemudian membalik ke arah pusatnya kekosongan. Akhirnya, lenyap dalam “Ketiadaan” sempurna.

Dibalik kekosongan itulah pusat “kerajaan” alam semesta. Semua “realitas” yang ada di alam semesta hanyalah proyeksi dari sebuah REALITAS TUNGGAL dari “SESUATU” yang berada dibaliknya.

Realitas ini tak lebih dari sebuah permainan cahaya yang berasal dari balik “kekosongan mutlak” itu. Seperti saat kita menonton film di sebuah bioskop. Gambar “hidup” yang bergerak di layar hanyalah proyeksi dari film yang disorot lampu dari sebuah proyektor, dibelakang penonton.

Di zaman sekarang kita dapat menonton permainan cahaya yang lebih canggih yang disebut hologram. Jika bioskop adalah proyeksi di layar dua dimensi, maka hologram bisa diproyeksikan ke “layar” tiga dimensi di dalam ruangan.

Maka sejumlah sinar laser bisa digunakan untuk membentuk bayangan manusia. Binatang, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Bayangan itu bisa bergerak di dalam ruangan persis seperti benda asli yang diproyeksikan dari suatu ruangan proyektor yang ada dibelakang penonton. Begitulah Allah menggambarkan dalam

(QS. An Nuur (24):35). “Allah mencahayai langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca, kaca itu seakan-akan bintang seperti mutiara. Yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, pohon zaitun yang tumbuh tidak disebelah timur dan tidak pula di disebelah barat, yang minyaknya hamper-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya diatas cahaya, Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu”.

Ayat diatas menggambarkan suatu perumpamaan yang mirip dengan ruang proyektor. Ada sebuah ruang gelap tak tembus, dimana di dalamnya ada sumber cahaya yang sangat terang. Cahaya itu bersinar dari sebuah “PELITA” yang menyala dengan sendirinya.

Cahayanya memancar lewat sebuah lubang menuju ruang yang terhampar di seluruh langit dan bumi. Cahaya yang dipancarkan itu berlapis-lapis dengan segala macam warna dan tingkatan frekwensinya. Dan kemudian membentuk seluruh realitas yang ada. Cahaya hanyalah pancaran dari SANG PELITA. Dan seluruh realitas yang dihamparkan di “Layar” langit dan bumi ini hanyalah sekedar proyeksi dari permainan cahaya-cahaya tersebut. Sangat mirip dengan sebuah permainan hologram. Bedanya hologram diproyeksikan kedalam ruang 3 dimensi. Sedangkan seluruh realitas ini diproyeksikan ke ruang 9 dimensi; 7 petala langit.

Maka, black hole yang menjadi pusat pergerakan langit pertama dengan segala isinya itu ikut berputar mengelilingi langit ke 2. disana ada black hole yang menjadi pusat proyeksi langit ke 2. dimana, langit 1 ini menjadi bagian kecil dari realitas langit ke 2. seluruh realitas kehidupan dilangit ke 2 itu adalah proyeksi hologram juga. Begitulah seterusnya, sampai langit ke 7 yang dimensinya 9 itu adalah proyeksi dari REALITAS TUNGGA yang berada dibalik Arsy.

(QS. Al Mukmin (40):07). “(Malaikat-malaikat) yang memikul Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka berima kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan) : “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala.

(QS. Al Haqqah (69):17). “Dan malaikat-malaikat berada di penjuru-penjuru langit. Dan pada hari itu delapan orang malaikat menjunjung Arsy Tuhanmu di atas mereka”.

Allah menggambarkan bahwa cahaya-cahaya kemalaikatan itu mencapai seluruh penjuru langit. Tapi, disekitar Arsy itu sendiri berkeliling para malaikat yang terus bertasbih. Diantaranya ada delapan malaikat yang menjadi petugas utama dari proyeksi “hologram” alam semesta.

Malaikat adalah mahluk-mahluk cahaya yang diutus oleh Allah menjembatani proyeksi tersebut. Bahkan, sebenarnya maikatpun menjadi bagian dari proyeksi hologram itu. Ada “8 berkas cahaya” yang menopang Arsy. Ke 8 berkas yang keluar dari Arsy itu berpusat di sekeliling Arsy dan memancar ke segala penjuru alam semesta. Mereka melesat dengan kecepatan berbeda beda sesuai dengan derajat dan tugasnya.

(QS. Ash Shaaffaat (37): 164-165). “Tiada seorangpun diantara kami (malaikat) melainkan mempunyai kedudukan yang tertentu”. “dan sesungguhnya Kami benar-benar bershaf-shaf (bertingkat-tingkat).

(QS. Faathir (35):01). “Segala puji bagi Allah pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan yang mempunyai “sayap”, masing-masing dua, tiga, dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Semoga bisa menjadikan bingkai persepsi dan iman teman-teman menjadi lebih baik tentang Kebesaran Allah, universalitas Alqur’an (bahwa Alqur’an adalah realitas) bukan angan-angan / cerita belaka, sehingga pandanglah Alqur’an adalah benar-benar realitas kehidupan semesta ini.

Wallahu alam bisowab...
Selamat beraktifitas berselimurt dzikrullah...

1 komentar:

  1. Bagaimana dengan surga? Dikatakan arsy berada diatas surga tertinggi (firdaus). Dalam artian surga pun berada dalam cangkupan proyeksi dari yg anda bilang. Dalam artian surga juga fana? Akan berakhir seiring berakhirnya semesta?. Sebelumnya saya suka gagasan anda, dan bukan ingin membantah bukan juga berdebat. Hanya ingin membahas realitas islam dan al quran juga maksut maksut yg diakui memang tidak dapat di mengerti dengan mudah. Wassalamu alaikum

    BalasHapus