QUANTUM MIND TECHNOLOGY TRAINING

Jumat, 03 Mei 2013

Gema Zikir Dalam Hati, Fikiran, Dan Tubuh, Kok Bisa..?

Pernahkah suatu saat telinga anda seolah-olah mendengar suara seseorang yang anda kenal sangat baik, berbisik di telinga anda. Padahal tidak ada orang di sekitar anda....???

Pernahkah juga anda mendengar nada-nada sebuah lagu kesayangan anda tiba-tiba saja terngiang di telinga anda dengan begitu jelas, padahal tidak ada siapapun di dekat anda yang sedang memutar lagu itu....???

Pikiran auditory lebih kuat daripada yang kita sadari. Telinga kita terus menangkap dan menyimpan informasi auditori, bahkan tanpa kita sadari. Dan ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara, beberapa area penting di otak menjadi aktif.

Seseorang yang dominan indra auditory-nya lebih cepat menyerap informasi melalui apa yang ia dengarkan. Proses sensori modalities preference adalah menggunakan Echonic Memory atau auditory sensory. Menurut Ascraft dalam Sugiarso (2006:25) bahwa echonic memory merupakan sistem-sistem ingatan ringkas yang menerima rangsangan pendengaran dan mempertahankannya untuk beberapa saat. Jika perhatian diarahkan selama interval tertentu, informasi dapat dikirim ke dan ditangkap ke short term memory....

Dan bila Memory Auditory tertentu memperoleh perhatian yang lebih besar dari kita, serta sering kita dengar berulang-ulang (Repetisi), maka Memory Auditory tersebut akan tertanam dengan kuat di otak bawah sadar (Subconscious Mind) yang merupakan gudang memory jangka panjang (Long Term Memory)....

Jadi...
Bila kita seolah-olah mendengar sebuah suara padahal tak ada getaran suara yg berasal dari luar diri kita.. Maka suara itu sebenarnya muncul dari Memory Auditory yang ada di dalam pikiran kita......

Nah...
Sekarang anda tahu jawabannya....
Mengapa seseorang yang terbiasa melakukan zikir-zikir tertentu, kemudian merasa seolah-olah mendengar suara hatinya sedang berzikir. Padahal secara sadar dia sedang tidak melakukan Zikir....... Ya, itulah gema Zikir dari memory Auditory kita yang tersimpan di seantero diri kita, baik di dalam hati, fikiran, dan DNA tubuh kita..

Artinya, hal itu adalah fenomena alamiah hasil dari latihan atau pembiasaan... Bisa karena biasa, Jadi bila kita istikomah dalam beramal, maka siapapun saja dapat mengalami Gema Zikir di dalam hati dan fikirannya, oleh karena itulah, hal itu tidak perlulah dijadikan kebanggaan sebagai suatu maqom zikir... yang kemudian berbuah kesombongan.... Namun seyogyanyalah hal itu semakin mendekatkan kita kepadaNya. Membuat hati kita semakin merunduk dan takut di hadapanNya... Sambil berdoa dengan penuh harap, semoga suara zikir itulah yang berkumandang saat kita menghadapi hari persidangan di akhirat nanti.

Praktek pengadilan Ilahi di hari akhirat kelak telah dijelaskan dengan gamblang dalam surat Yasin ayat 65 yang artinya:

Pada hari itu Kami bungkam mulut-mulut mereka; dan berkatalah kepada kami tangan mereka, sedankan kaki-kaki mereka memberikan kesaksian atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia.

Jadi, badan kita ini akan menjadi saksi. Jika mulut mencoba mengingkari suatu tuduhan dalam pengadilan Allah nanti, maka yang akan membantah adalah tangan kita sendiri, dan kaki kita akan menjadi saksi. Ini adalah peringatan yang sangat kuat yang harus selalu kita renungkan.

Secara ilmiah kita bisa mengatakan bahwa badan kita ini memang bisa menjadi saksi dari seluruh perbuatan kita. Sebuah teori mengatakan bahwa sebenarnya segala kejadian di alam raya ini tidak ada yang hilang tanpa terekam. Kejadian-kejadian itu terekam di angkasa juga di dalam diri kita sendiri. Sebagai contoh dari proses perekaman ini adalah fungsi DNA (deoxyribonucleic acid) dan gen. DNA dan gen berfungsi sebagai perekam semua bentuk dan karakter/watak kita. DNA terdapat di dalam gen, gen ada di dalam kromosom, dan kromosom terdapat di dalam sel. Dan perlu kita tahu bahwa semua makhluk hidup memiliki sel. Baik DNA, gen, kromosom, dan sel, semuanya adalah benda-benda mikroskopis (yang hanya bisa dilihat dengan mikroskop). Tetapi justru di dalam DNA itulah terekam seluruh informasi mengenai diri kita. Apakah rambut kita ikal atau lurus, hidung kita pesek atau mancung, watak kita penggembira atau gampang sedih, watak kita supel atau tertutup, semuanya ada di dalam benda-benda yang tak terlihat oleh mata telanjang kita.

Oleh karenanya, jika al-Quran mengatakan bahwa badan kita menjadi perekam dari seluruh perbuatan kita, adalah suatu hal yang benar adanya. Karena di dalam tubuh kita ini terdapat milyaran DNA dan gen. Dan semuanya itu kelak akan berbicara pada Allah SWT melalui tangan dan kaki kita seperti dilukiskan di dalam surat Yasin ayat 65 tsb.

Maka dari itu, semua ini harus menjadi peringatan bagi kita. Hidup di dunia hanya satu kali. Setiap kejadian yang kita alami hanya terjadi sekali. Bahkan setiap detik, menit, dan jam, tidak mungkin terulang lagi. Maka hendaknya kita terus berupaya meningkatkan kulaitas hidup kita secara serius.

MEDITASI HENING ==> NAFSUL MUTHMAINNAH
Praktek Meditasi Hening dalam pelajaran Kultivasi Holistic Ayat Kursy (KHAK). Hakikatnya itu adalah latihan Wukuf Qolbi, Hening Diam dan hanya fokus pada Nafas.... Zikir Nafas... Mensyukuri Nafas Hidup yang selama ini telah menjadi Tali bagi nyawa kita.....

Praktek latihan ini akan melatih seluruh sel dalam tubuh kita untuk senantiasa bergetar dengan stabil, serta untuk mengharmoniskan sistem Energi dan juga Cakra-cakra yang ada di tubuh bioplasmik kita.... Dengan rutin melakukan latihan ini. Maka kesehatan dan juga ketahanan tubuh kita akan semakin meningkat, yang pada akhirnya akan berpengaruh pada kondisi mental dan jiwa kita yang cenderung menjadi lebih tenang, damai, dan teguh tak tergoyahkan....

Segala aksi yang datang dari luar, akan kita tanggapi dengan lebih bijaksana dan tidak reaktif...

Kondisi Jiwa Dan mental yg seperti inilah yang disebut Kondisi Nafsul Muthmainnah atau Kondisi Jiwa Yang Tenang.....

Nafsul Muthmainnah adalah Fondasi bagi peningkatan spiritual yang lebih lanjut..... Ini baru tahap dasar...

Karena ketika kita mulai menaikkan maqom atau kedudukan jiwa kita ke derajad Nafsu Rodliyah atau Maqom Ridlo...... Maka biasanya ujian kehidupan yang datang juga tidak sedikit....

Maqom Ridlo tidak dapat ditempuh dengan laku Zikir Duduk, tetapi Maqom Ridlo menjadi matang ketika ditempuh dalam laku Zikir Gerak dan Topo Ngrame atau Kholwat Daranjuman (Ramai di kala sendiri, dan sepi di tengah keramaian). Tempaan serta ujian kehidupanlah yang mematangkan jiwa kita menaiki derajat ini......

dan ketika jiwa kita betul-betul Tangguh tak tergoyahkan.... Maka turunlah Anugrah Allah swt yg berupa keridloan Allah pada kita, dan kita menapaki maqom derajad Nafsul Mardliyah....

Inipun bukanlah perjalanan puncak, masih panjang jalan yang harus kita lalui.... Dan ketika suatu saat turun ayat yg berbunyi "TELAH AKU SEMPURNAKAN AGAMAMU....." Maka. itu artinya, detik-detik ajal kita sudah dekat.....

Inilah sebenarnya jalan Penyempurnaan jiwa/Kultivasi atau Tazkiyatun Nafs, yang merupakan jalan-jalan peningkatan kesadaran kita... yang salah satu buahnya adalah berupa Akhlakul Karimah, atau Akhlak yang terpuji... Yang merupakan pengejawantahan Nur Muhammad yang memancar dari dalam hati....

Inilah yang seharusnya menjadi acuan dalam berspiritual secara Islami...

Dan bukannya pengalaman-pengalaman mistik yang merupakan sekedar Ibrah untuk menambah keyakinan... sekedar hiburan dari Allah agar kita dapat berjalan di jalan spiritual ini dengan nikmat dan enjoy..... Ibrah ini hampir sama dengan nikmatnya makanan atau nikmatnya hubungan suami istri, yang sengaja Allah munculkan rasa nikmat itu, agar kita suka untuk menjaga dan merawat kelangsungan hidup dari jasmani kita.... Dan sebagaimana makanan, kita tentu tidak boleh melekat kepada nikmat tersebut bukan....???

Demikian semoga bermanfaat. Wallahu A'lam...

Referensi artikel : http://www.infodiknas.com/pendekatan-savi-somatis-auditor-visual-dan-intelektual-sebagai-upaya-peningkatan-potensi-dan-prestasi-belajar.html

Kamis, 18 April 2013

Mind Soul Programming & Khusnul Khotimah

"Dan jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."
 (Asy-Syams: 7-10)

KEJUJURAN BAWAH SADAR
Sebelum mengalami koma, alm. adikku mengalami dulu amnesia total. Dia tidak ingat siapa dirinya, orang-orang dekatnya, apa yang dialaminya, apa yang harus dilakukannya, dan banyak satuan data atau informasi lainnya.

Dia seperti balita bahkan di bawah level itu. Kesanggupannya hanya merespon impuls2 tubuh spt sakit, lapar, atau pipis.

Tampaknya jumlah vocabulary yang diingat juga sangat minim. Maka saya sangat takjub ketika dia menjeritkan rasa sakitnya dengan ungkapan-ungkapan zikir.

Ya Allah....Ya Allah ...Ya Allah
Astagfirullah
Subhanallah
Alhamdulillah
Allahu Akbar

Saya sama sekali tidak bisa membuat kesimpulan tapi merasa bergidik,
"APA YANG AKAN SAYA KATAKAN JIKA SAYA BERADA DALAM KONDISI YANG SAMA?"

Begitu banyak yang saya simpan dan tidak ingin ada seorangpun yang mengetahuinya. Begitu banyak hal buruk yang saya tahan agak tidak muncul ke permukaan.

"APA YANG AKAN TERJADI JIKA SAYA MENDAPATKAN KONDISI YANG SAMA?"

Pak Guru Edi Sugianto saya mohon perkenannya untuk bisa menjelaskan hal ini kepada saya dan mungkin kepada banyak orang lain. Saya benar-benar merasa bergidik. (Link : https://www.facebook.com/siti.nurjanah.31542841/posts/587266564630466 )

Demikianlah pertanyaan ibu Siti Nurjanah di Wall Facebook saya, semoga artikel ini dapat menjadi jawabannya.

MIND PROGRAMMING & KHUSNUL KHOTIMAH

Para ahli telah mengatakan bahwa komposisi kesadaran pikiran kita itu terbagi 2, yaitu pikiran Sadar dan Bawah Sadar...

Program pikiran yang telah terinstal di dalam pikiran bawah sadar akan menjadi Framework bagi diri kita, mengontrol serta mengendalikan diri kita. Di dalam Pikiran Bawah Sadar terletak Program-Program Pikiran yang selama ini mengontrol tindakan dan pemikiran kita secara otomatis dan tanpa disadari. Mengontrol kebiasaan-kebiasaan kita, yang pada akhirnya mempengaruhi kondisi kehidupan yang kita alami dan kita rasakan saat ini.

Ya...
Awalnya, kitalah yang mengatur kebiasaan kita, namun pada akhirnya... kebiasaanlah yang mengatur kita...

Demikian juga....
Pada Awalnya, kitalah yang mengatur Program Pikiran ini ke dalam pikiran bawah sadar kita, namun kemudian, Program Pikiran inilah yang mengatur kita.

KHUSNUL KHOTIMAH

“Siapa yang akhir ucapannya adalah kalimat ‘La ilaaha illallah’ ia akan masuk surga.” (HR. Al-Hakim dan selainnya dengan sanad yang hasan)

Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib ra dalam hadits yang panjang ia berkata: Rasulullah saw naik mimbar lantas memuji Allah dn menyanjung-Nya dan bersabda, “Sebuah kitab Allah telah menuliskan padanya para penghuni syurga dengan nama-nama mereka, dengan nasab-nasab mereka…. Amal-amal itu dinilai yang akhirnya”. HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath,

Sahabat...
Tahukah anda bagaimana kondisi kesadaran seseorang sesaat sebelum ajal menjemputnya...???

Secara Kedokteran, kematian merupaka n suatu keadaan di mana Medulla Oblongata sudah tidak berfungsi dan rusak. Medulla Oblongata merupakan bagian dari Batang Otak yang terletak di bawah Mesencephalon dan Pons yang berfungsi mengatur Kardiovaskular, mengatur kerja jantung, sistem pencernaan, sistem respirasi, pusat koordinasi dan pusat kesadaran. Seseorang yang koma belum bisa dikatakan mati karena Medulla Oblongata nya masih berfungsi. Dokter dan praktisi kesehatan pun akan mendiagnosis seseorang meninggal atau tidaknya dengan melihat dan mengontrol Medulla Oblongata nya dengan menyalakan cahay a (biasanya senter) pada mata pasien. Jika pupil pasien mengecil, maka Medulla Oblongata nya masih berfungsi, namun jika pupilnya tidak mengecil maka Medulla Oblongata pasien telah berhenti bekerja. Inilah yang dikatakan dengan kematian. Di sisi lain dapat dikatakan bahwa Medulla Oblongata adalah tempat penggantung nyawa (dan ruh) kita.

Berdasarkan Life-Span Development (Psikologi Perkembangan) menjelaskan bahwa seseorang yang akan mati, otak bagian atas mati terlebih dahulu dibandingkan otak bagian bawah karena masih mengontrol pernafasan dan kerja jantung (dikemukakan oleh Flyers Hockey). Seseorang sudah dapat dikatakan mati jika fungsi kortikal yang meliputi inteligensi dan kepribadian serta fungsi kemanusiaannya telah mati.

Di saat sebelum meninggal, seseorang akan merasa kesepian yang teramat sangat, merasakan di sekitarnya sangat hitam dan suram, merasakan sakit yang teramat sangat dan ingin menangis untuk yang terakhir kalinya di dunia. Di saat sebelum meninggal, akan muncul seperti Flashback (atau kilasan balik) tentang masa-masa hidupnya saat dia dilahirkan di dunia oleh ibunya, saat ia menikmati bahagianya masa kecil bersama kedua orang tuanya, saat bermain-main dengan saudaranya dan teman sepermainannya sewaktu kanak-kanak, saat ia merasakan bahagianya masa sekolah bersama teman-temannya, saat ia menyayangi istri (atau suami) dan keluarga barunya, saat ia merasakan masa senjanya bersama orang terdekat yang masih ada, saat merasakan sakit dan saat hari-hari kemarin. Ia merasakan bahwa hidup ini cepat sekali ia lalui dan tidak terasa akan tibalah akhir masa baktinya ia di dunia untuk menjalankan perintah Allah.

Nah....

Bagaimana orang yang kesadarannya hilang masih teringat untuk bisa berzikir dan menyebut kalimat Toyyibah.....???
Dan bagaimana agar saat kita di akhir hayat kita masih mampu untuk berzikir mengingat Allah swt...???

THE MAP IS NOT THE TERRITORY
Sahabat, terkadang kita itu sedemikian mudahnya menghakimi orang lain hanya dengan pandangan yang sekilas saja.... Mudah berprasangka buruk pada orang lain, hanya karena bajunya berbeda dengan baju kita.... Menilai orang lain, dengan sudut pandang kita sendiri berdasarkan ilmu dan pengalaman kita sendiri yang sesungguhnya masihlah sangat terbatas....

Sahabat, sesungguhnya yang paling tahu mengenai diri kita adalah diri kita sendiri dan Tuhan...

Dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
Sungguh ada seorang hamba yang menurut pandangan orang banyak mengamalkan amalan penghuni surga, padahal dia sebenarnya adalah penghuni neraka. Sebaliknya ada seorang hamba yang menurut pandangan orang melakukan amalan-amalan penduduk neraka, padahal dia sebenarnya adalah penghuni surga. Sungguh setiap amalan itu dihitung dgn penutupannya.” (HR. Al-Bukhari no. 6012)

Hadits riwayat Abdullah bin Masud Radhiyallahu’anhu, ia berkata:
"Seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam dan berkata: Wahai Rasulullah, bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang mencintai suatu kaum namun dia belum dapat bertemu dengan mereka? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam menjawab: Seorang akan bersama orang yang dicintai" (Hadits Shahih Muslim : 2640-165)

Hadits riwayat Anas bin Malik Radhiyallahu’anhu:
"Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya? Lelaki itu menjawab: Cinta Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: Kamu akan bersama orang yang kamu cintai"(Hadits Shahih Muslim : 2639-161)

Kunci Kalimat (Miftâhul Kalâm)
( الْمَــرْءُ مَـــعَ مَنْ أَحَـــــــبَّ )
Seseorang itu akan bersama dengan orang yang dicintainya

Di dunia ini tidak ada yang diharapkan seorang muslim, kecuali dirinya dicintai Rabb-nya, segenap amalnya diterima Allah, wafatnya husnul khatimah, dan di surga dikumpulkan bersama Rasulullah saw. Hal itu bisa terwujud jika ia mencintai dan dicintai serta ridla dan diridlai oleh Allah azza wa jalla dan rasul-Nya. Rasa cinta itu harus diwujudkan ke dalam kehidupan sehari-hari. Demikianlah hadis di atas menjadi Motivator Kecerdasan kita, sehingga melahirkan kekuatan cinta. Dan, dari kekuatan cinta itulah secara produktif akan melahirkan perubahan positif yang dahsyat; insya Allah. Sebagaimana dinyatakan-Nya,

Katakanlah, "Jika kamu [benar-benar] mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian." Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang” (Qs.Ali Imrân [3]: 31).

Dan, sabda Rasulullah saw,
“Siapa saja yang memiliki tiga sifat ini, niscaya akan merasakan manisnya iman, yaitu:
1).Mencintai Allah dan rasul-Nya melebihi segala-galanya;
2).Mencintai seseorang hanya karena Allah; dan
3).Enggan untuk kembali kafir setelah diselamatkan Allah sebagaimana enggannya apabila dilemparkan ke dalam neraka”
(Hr.Bukhari dan Muslim).

♣¤══¤۩۞۩ஜ Cinta dan benci ஜ۩۞۩¤══¤♣

Manusia adalah sebuah unit medan energi yang mempunyai sifat sebagai bioelektromagnetik. Bisa diartikan juga sebagai sebuah kekuatan Daya Magnetisme Pribadi. Magnet mempunyai dua kekuatan utama, yaitu Daya Tarik & Daya Tolak. Di alam rasa :
► Puncak Daya Tarik disebut Cinta dan
► Puncak Daya Tolak disebut Benci.

Tali iman yang paling kuat adalah cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR.At Tirmidzi)

Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan tidak memberi karena Allah, maka sungguh telah sempurna Imannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi, ia mengatakan hadits hasan)

Kamu tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat, saling kasih sayang dengan orang yang menentang Allah dan RasulNya, sekalipun orang orang itu bapak-bapak, anak-anak sauadara-saudara ataupun saudara keluarga mereka.” (Al-Mujadalah: 22)

Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian akan saling mencintai.” (HR. Al-Bukhari dalam kitab Adabul Mufrod, hal 120 dan Baihaqi 6/169 dengan sanad hasan)

“Wahai Abu Hurairah! berkunjunglah engkau dengan baik tidak terlalu sering dan terlalu jarang, niscaya akan bertambah sesuatu dengan kecintaan.” (HR.Thabrani dan Baihaqi dengan sanad yang shahih)

Tidaklah kalian masuk Surga sehingga kalian beriman, tidakkah kalian beriman sehingga kalian saling mencintai, Maukah kamu aku tunjukkan tentang sesuatu yang apabila kalian melakukan-nya akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim 2/35).

Banyak orang yg salah faham dg kalimat "Benci" yg diperintah oleh Allah dan Rasulullah. Karena memang pada umumnya manusia itu tdk tahu makna CINTA SEJATI sehingga juga tdk faham dg makna BENCI SEJATI.

Rasa Cinta dan benci haruslah atas dasar karena Allah. Hal ini sama dg makna ikhlas, yaitu beribadah semata-mata karena Allah. Jadi Cinta & Benci di sini bukanlah timbul atas dorongan Nafsu. Namun muncul dari hati nurani yg bersih & murni.

Cinta sejati adalah sebuah daya tarik yg sangat kuat yg ditujukan kpd Allah.
Dan Benci sejati adalah Daya Tolak yg sangat kuat terhadap segala hal yg merintangi jalan utk menuju kpd Allah. Bila kita sdh bisa memahami ini. Maka sempurnalah iman kita.

KEBIASAAN YANG DOMINANLAH YANG MEWARNAI KONDISI SAKARATUL MAUT KITA
Ada beberapa sebab Suul Khatimah yang wajib diketahui oleh setiap mukmin sehingga dapat berhati-hati darinya. Yang paling dominan adalah sibuk dengan urusan dunia, selain itu tidak istiqamah, lemah iman, rusaknya akidah, dan terus menerus dalam kemaksiatan. Karena orang yang bergelimang dalam maksiat dan umurnya panjang dalam kejahiliyaan, maka hatinya akan akrab dengan maksiat. Segala aktivitas yang dilakukan dan disukai oleh seseorang di masa hidupnya, akan hadir dalam ingatannya di saat datangnya ajal. Jika yang lebih disukainya adalah perkara ketaatan, maka ketika datangnya kematian ia akan ingat ketaatan, sebaliknya, jika ia lebih condong pada kemaksiatan, maka itulah yang akan lebih banyak muncul ketika datangnya kematian.

Hati merasa takut untuk berpisah dengan apa yang disukainya dan apa yang sudah menjadi kebiasaannya, terlebih lagi di saat genting dan terjadinya musibah. Apabila hati telah yakin akan berpisah dengan apa yang disukainya tadi, maka ia akan teringat dengannya ketika hidupnya akan berlalu. Berkata Ibnul Qayyim: “Oleh karena itu – Wallahu a’lam – sering kali orang yang akan meninggal mengucapkan apa yang disukainya dan banyak ia sebut, dan bahkan mungkin rohnya keluar dalam keadaan ia mengucapkan kalimat tadi. Banyak orang yang hobinya main catur di saat sakaratul maut mereka mengatakan “Rajanya mati”, dan sebagian yang lain mendendangkan syair sampai ia meninggal, karena dahulunya ia adalah penyanyi.

Ada seseorang yang mengabarkan kepadaku bahwa salah satu kerabatnya adalah seorang pedagang kain, di saat ajal datang mengatakan: “Kain ini bagus, sesuai untukmu, barang ini murah, menyamai ini dan itu”, sampai ia meninggal dunia.

Mujahid berkata, “Tidak ada seorangpun yang akan meninggal dunia, kecuali akan akan diperlihatkan padanya teman-teman yang biasa duduk bersamanya, baik itu mereka yang hobi bermain, maupun yang gemar dzikir.

Ada orang yang hobi main catur, ketika sakaratul maut, dikatakan padanya: “Ucapkanlah Laa ilaaha illallah, maka ia mengatakan: “Rajamu”, kemudian ia meninggal. Ia mengucapkan kalimat yang biasa ia katakan ketika bermain (catur) semasa hidupnya, sehingga ia mengganti kalimat tauhid dengan (Rajamu). Keadaannya tidak berbeda dengan orang yang biasa duduk dengan pecandu minuman keras, ketika ajal datang, dan ada orang yang mentalqinnya untuk mengucap syahadat, tetapi ia malah mengatakan: “Minum dan berilah aku minum), lalu iapun meninggal. Laa haula walaa quwwata illaa billaahil ‘Aliyyil ‘Adziim.

Demikianlah keadaan orang yang bertambah umurnya, tetapi dalam waktu yang sama bertambah keburukannya. Sehingga dalam umurnya yang dewasa keburukannya lebih banyak dibanding ketika masa kecilnya. Orang semacam ini biasanya sulit untuk bertaubat, dan tidak mendapat taufiq untuk beramal sholeh yang bisa menghapus apa yang telah ia lakukan dahulu. Dikhawatirkan ia akan mengalami su’ul khatimah sebagaimana yang terjadi pada banyak orang, yang meninggal dengan membawa kotoran. Mereka belum bersuci darinya sebelum meninggalkan dunia. Ini adalah tipu daya setan pada manusia di saat datangnya ajal, saat setan memerangi seorang hamba pada kali terakhirnya.

Dari Sa’id bin Musayyab dari ayahnya berkata: ketika Abu Thalib mendekati ajalnya, Rasulullah SAW mendatanginya, sementara di dekat Abu Thalib ada Abu Jahal bin Hisyam dan Abdullah bin Abi Umayyah bin Al-Mughirah, maka Rasulullah saw bersabda: “Wahai pamaku, ucapkanlah Laa ilaaha illallah, satu kalimat yang akan aku jadikan saksi di hadapan Allah“. Maka Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata: “Wahai Abu Thalib, apakah engkau berpaling dari ajaran Abdul Muthalib? Rasulullah tiada henti-hentinya menasehati pamannya, begitupula Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah berkata seperti tadi, sampai pada akhirnya Abu Thalib mengucapkan bahwa ia mengikuti ajaran Abdul Muthalib dan enggan untuk mengucapkan Laa ilaaha illallah.

Diriwayatkan bahwa setan hadir di saat anak Adam sedang mengalami sakaratul maut dan ruhnya keluar, kemudian ia menawarkan padanya semua agama selain Islam. (Ia datang) dengan rupa orang yang memberi nasehat dan terpercaya seperti seorang ayah, ibu, saudara, atau teman setia, lalu berkata: “Matilah dalam keadaan Yahudi, karena ia adalah agama yang diterima di sisi Allah”. Atau ia berkata: “Matilah dalam keadaan nasrani yang merupakan agama Al-Masih dan diterima di sisi Allah Ta’ala. Setan tidak henti-hentinya menyebutkan keyakinan agama yang lain dengan harapan orang tadi meninggal dengan memeluk selain Islam. Inilah tujuannya, semoga Allah melaknatnya.

Berkata Abdullah bin Ahmad bin Hambal, “Aku menghadiri saat wafatnya ayahku, Ahmad dan tanganku memegang secercah kain untuk memegang janggutnya. Beliau tidak sadar kemudian terbangun dan mengatakan dengan isyarat tangannya: “Tidak, masih belum”. Beliau melakukannya berkali-kali. Maka aku katakan padanya: “Wahai ayahku, apa yang nampak olehmu ? Ayah menjawab, “Setan berdiri sambil menggigit terompahku dan mengatakan, “Wahai Ahmad, engkau telah selamat dariku”, maka aku mengatakan, “Tidak, masih belum sampai aku meninggal dunia”.

Al-Qurtubi berkata: “Aku mendengar guru kami Imam Abul ‘Abbas Ahmad bin Umar Al-Qurtubi berkata: Aku menyaksikan saat menjelang wafatnya saudara guru kami Abu Ja’far Ahmad bin Muhammad Al-Qurtubi di Qurtubah. Dikatakan kepadanya Laa ilaaha illallah, tetapi ia mengucapkan: Tidak, tidak. Setelah ia sadar, kami mengingatkan hal tersebut padanya, maka ia menceritakan bahwa ada dua setan yang ada di sebelah kanan dan kirinya mengatakan salah satu dari keduanya membisiki: Matilah dalam keadaan yahudi, karena ia adalah sebaik-baik agama. Dan setan yang satunya berkata: Matilah dalam keadaan Nasrani, karena ia adalah sebaik-baik agama. Maka aku mengatakan pada keduanya: tidak, tidak, apakah kepadaku kalian menawarkan hal ini?”

Berkata Ibnul Jauzi, “Aku melihat sebagian orang yang beribadah dalam masa tertentu lalu berhenti, maka ada yang menyampaikan padaku bahwa orang tersebut berkata, “Aku telah beribadah pada Allah dengan ibadah yang tidak pernah dilakukan oleh siapapun juga.

Ibnu Katsir berkata, “Maksudnya…..bahwa dosa, maksiat dan syahwat menghinakan pelakunya di saat kematian di tambah pelecehan setan padanya, sehingga berkumpul padanya kehinaan dan lemahnya keimanan, sehingga ia mengalami su’ul khatimah.

Allah berfirman:
Dan adalah syaithan itu tidak mau menolong manusia” (Q.S Al-Furqaan 29).

Tidak ada yang ingin mengalami su’ul khatimah semoga Allah melindungi kita darinya. Pada orang yang suci lahir dan batinnya pada Allah dan juga benar dalam segala ucapan dan perbuatannya maka belum pernah terjadi hal yang demikian itu pada mereka. Su’ul khatimah hanya akan dialami oleh orang yang rusak keyakinan batinnya, rusak amalannya, yang berani melakukan dosa besar dan kejahatan, sehingga bisa jadi hal itu semua akan lebih dominan padanya sampai ajal menjemputnya sebelum ia sempat bertaubat.

"Dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.
(QS. Al-Anfal: 45)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Mu’adz,“Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menasehatkan kepadamu –wahai Mu’adz-, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat bacaan ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir dan bersyukur serta beribadah yang baik pada-Mu).”

Referensi :
  • http://adityagusetyawan.blogspot.com/2011/12/tanda-sebelum-kematian-perasaan-saat.html
  • http://salafy-indonesia.web.id/antara-husnul-khatimah-dengan-su-ul-khatimah-alaihi-wasallam-267.htm
  • http://seputarmuslimah.blogspot.com/2011_02_01_archive.html

Selasa, 16 April 2013

Hakikat Tenaga Dalam Sejati (Inner Power)

Hakikat dari pelatihan Tenaga Dalam adalah melatih kemampuan atau kompetensi untuk mengendalikan Nafsu Ammarah (Anger Management). Mengendalikan Nafsu Ammarah bukan berarti kita sudah sama sekali tidak bisa marah, bukan seperti itu. Tetapi mereka dapat mengelola Energi Marah untuk hal-hal yang tepat dan berguna serta sesuai dengan koridor sistem nilai & moralitas yang berlaku di masyarakat. Serta untuk menegakkan kebenaran dan nilai-nilai luhur yang ada di masyarakat.

Di kalangan praktisi tenaga dalam, kondisi ammarah yang sudah terkendali tersebut biasanya di sebut sebagai Kekuatan Ammarah Suci. Dan dalam pelatihan tersebut sangat terlihat, betapa siswa yang masih belum bisa mengendalikan kekuatan ammarahnya. Maka dia akan menjadi permainan lawan.

"Kenali dirimu dan musuhmu, dalam 100 pertempuran engkau tidak akan kalah. Kenali dirimu tapi tak kenal musuhmu, akan ada 1 kemenangan untuk 1 kali kekalahan. Tidak kenal diri dan tidak kenal musuh, dalam semua pertempuran sudah pasti kalah!"
- Sun Tzu, The Art of War -

Marah adalah manusiawi. Marah yang bisa berdampak buruk adalah marah yang tidak dikelola. Sebaliknya bila Anda mampu mengelola amarah dengan tepat, maka ekspresi kemarahan Anda justru akan menyehatkan. Hal ini sudah terbukti pada sebuah penelitian yang menyatakan marah akan lebih baik daripada memendam perasaan jengkel.

Marah juga merupakan satu bentuk komunikasi. Karena adakalanya orang lain baru mengerti maksud yang ingin disampaikan ketika kita marah. Bentuk penyampaian marah bisa berbeda-beda bergantung pada lingkungan dan kondisi sosial budaya yang membentuknya. Di Jepang, orang sering diam saat marah karena memang orang-orang Jepang tidak terbiasa mengekspresikan perasaannya. Berbeda dengan orang Amerika yang lebih berterus terang mengungkapkan perasaannya atau sama halnya dengan Suku Batak di tanah air kita.

Bentuk - Bentuk Rasa Marah
Kita mungkin sering melihat bagaimana rasa marah itu berkobar dalam berbagai bentuk. Terkadang kita memiliki bentuk sendiri ketika mengekpresikan rasa marah, yaitu bentuk yang selalu kita gunakan secara otomatis ketika kita berada dalam masalah dan menjadi kebiasaan. Kebiasaan adalah kekuatan yang akan menguasai kita, ketika kita bereaksi secara spontan.

Marah itu sendiri bukanlah hal yang buruk maupun baik, marah hanyalah perasaan dan perasaan adalah sesuatu yang muncul dalam diri kita tanpa kita sadari. Yang paling penting adalah apa yang kita lakukan terhadap perasaan itu yang akan menentukan kualitas dari hidup kita.

Kebanyakan dari kita tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa marah dengan benar, kita sangat sulit untuk belajar untuk mengontrolnya. Marah biasanya muncul dari ketakutan, penolakan, dan ejekan. Sering kali orang - orang mengekspresikan rasa marah dengan tindakan ekstrim hingga kekerasan.

Sering kali , terutama di hubungan, karena ketidak mampuan untuk mengekpresikan rasa marah dengan benar, bisa merujuk pada kekerasan.

Kalau kita membayangkan marah sebagai suatu spektrum, maka pada baris bawah (yang dasar) kita akan melihat ocehan, negatif, kritik, dendam, dan perilaku mengadili. Memang ada marah yang sedikit lembut, namun itu sebenarnya setingkat dengan contoh yang diatas. Masyarakat kita biasanya lebih toleran dengan bentuk marah yang sedikit lebih lembut, begitu juga dengan kehidupan dalam berkeluarga.

Mungkin karena itu sudah merupakan hal yang umum terjadi. Bagi orang yang mengekpresikan rasa marahnya dengan sedikit lembut, biasanya mereka sedikit menahan dan menyembunyikannya, sehingga mereka hanya mengeluarkan rasa frustasinya sedikit, menolak rasa marah itu dan kemudian mulai memikirkan hal yang lain.

Kemudian diatasnya lagi, ada ekspresi marah yang jauh lebih kasar dari kekerasan. Ketika rasa marah itu menuju ke sisi yang lain, kita akan melihat ekspresi marah yang lebih besar seperti amukan, kegeraman, dan kemurkaan. Jadi, dimana rasa marah Anda sekarang?

Mengendalikan Nafsu Ammarah

Rasulullah Saw bersabda : “Orang kuat itu bukanlah yang menang dalam gulat tetapi orang kuat adalah yang mampu menahan nafsu amarahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Ibnu Mas’ud ra Rasulullah Saw bersabda : “Siapa yang dikatakan paling kuat diantara kalian? Sahabat menjawab : yaitu diantara kami yang paling kuat gulatnya. Beliau bersabda : “Bukan begitu, tetapi dia adalah yang paling kuat mengendalikan nafsunya ketika marah.” (HR. Muslim)

Al Imam Abu Dawud rahimahullah mengeluarkan hadits secara makna dari shahabat Nabi, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Tidaklah seorang hamba menahan kemarahan karena Allah Swt kecuali Allah Swt akan memenuhi baginya keamanan dan keimanan.” (HR. Abu Dawud dengan sanad Hasan)

Dalam kehidupan kita selalu saja ada sisi positif dan negatif dalam interaksi kita dengan sesama. Positif ketika interaksi kita tidak membawa kekecewaan, bahkan yang ada adalah saling tolong menolong sesama mukmin, saling sayang menyayangi sesama mukmin. Dan negatif akan timbul, saat interaksi kita dengan orang lain membuahkan kekecewaan yang tidak jarang disertai dengan kemarahan.

Tidak ada manusia yang tak memiliki sifat amarah berapapun kadarnya. Hanya saja, seberapa jauh, setiap orang memiliki kemampuan menahan dan mengendalikan sifat amarah dalam dirinya. Sebagian orang mengatakan marah adalah manusiawi, karena marah adalah bagian dari kehidupan kita. Tapi alangkah baiknya bila kita bisa menjadi pribadi yang bisa menahan marah dan kalaupun kita marah, maka marahnya kita tidak berlebihan.

Syeikh Imam al-Ghazali, dalam Kitab Ihya’ Ulumuddin nya mengatakan, “Barangsiapa tidak marah, maka ia lemah dari melatih diri. Yang baik adalah, mereka yang marah namun bisa menahan dirinya.”

Tiga hal termasuk akhlak keimanan yaitu, orang yang jika marah, kemarahannya tidak memasukkanya kedalam perkara batil, jika senang maka kesenangannya tidak mengeluarkan dari kebenaran dan jika dia mampu dia tidak melakukan yang tidak semestinya.

Maka wajib bagi setiap muslim menempatkan nafsu amarahnya terhadap apa yang dibolehkan oleh Allah Swt, tidak melampaui batas terhadap apa yang dilarang sehingga nafsu amarahnya tidak mengarah kepada kemaksiatan, kemunafikan apalagi sampai kepada kekafiran. Kita harus melatih diri kita agar tidak menjadi orang yang mudah marah dan menahan marah kita agar kemarahan kita tidak berlebihan.

Perhatikan firman Allah Swt berikut ini : “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya serta memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali Imran {3} :133-134).

Orang yang bertakwa adalah mampu menahan marah dengan tidak melampiaskan kemarahan walaupun sebenarnya ia mampu melakukannya. Kata al-kazhimiin berarti penuh dan menutupnya dengan rapat, seperti wadah yang penuh dengan air, lalu ditutup rapat agar tidak tumpah. Ini mengisyaratkan bahwa perasaan marah, sakit hati, dan keinginan untuk menuntut balas masih ada, tapi perasaan itu tidak dituruti melainkan ditahan dan ditutup rapat agar tidak keluar perkataan dan tindakan yang tidak baik. (Quraisy Shihab, Tafsir al-Misbah, II, hal. 207).

Penelitian Ilmiah
Menurut Charles Spielberger, Ph.D., seorang ahli psikologi yang mengambil 3 spesialisasi studi tentang marah. Marah adalah suatu perilaku yang normal dan sehat yakni sebagai salah satu bentuk ekspresi emosi manusia. Seperti bentuk emosi lainnya, marah juga diikuti dengan perubahan psikologis dan biologis. Ketika Anda marah, denyut nadi dan tekanan darah meningkat, begitu juga dengan level hormon, adrenalin dan noradrenalin.

Mark Gorkin—seorang konsultan pencegahan stres dan kekerasan— membagi marah dalam empat kategori; marah yang disengaja, marah spontan (marah yg dilakukan secara tiba-tiba), marah konstruktif (marah yang disertai ancaman terhadap orang lain) dan marah destruktif (marah yang ditumpahkan tanpa rasa bersalah).

Peneliti dari Universitas Valencia di Spanyol tertarik dengan apa yang terjadi pada tubuh manusia ketika sedang marah. Dan temuan ini muncul untuk mendukung teori psikologi umum yang menyatakan bahwa 'ventilasi' emosi lebih baik untuk kesehatan mental ketimbang membiarkannya tetap terkunci alias dipendam.

Penelitian ini menemukan bahwa mengekspresikan kemarahan dapat meningkatkan aliran darah ke bagian otak yang terlibat dengan perasaan bahagia.

Untuk melakukan penelitian ini, peneliti mengumpulkan 30 orang di sebuah laboratorium, perlahan-lahan meningkatkan tingkat kemarahan mereka dan mengamatinya.

Detak jantung, tekanan darah serta level dari dua hormon stres partisipan yaitu testosteron dan kortisol, diukur semuanya. Otak juga di skrining, dari awal hingga akhir penelitian.

Temuan yang sudah dipublikasikan dalam jurnal Hormones and Behaviour ini menunjukkan bahwa bagian kiri dari otak lebih terstimulasi ketika partisipan sedang marah.

"Daerah frontal otak kiri umumnya terlibat dalam emosi positif, sedangkan bagian kanan berkaitan dengan emosi negative," ujar Dr Neus Herrero, dari Universitas Valencia di Spanyol, yang memimpin penelitian, seperti dilansir dari Telegraph.

Dr Herrero juga menuturkan bahwa marah dapat mendorong perubahan besar dalam tubuh manusia, yaitu mengendalikan kerja jantung dan hormon. Dia menunjukkan bahwa tingkat kortisol turun dan kadar testosteron meningkat.

Selain itu, juga terjadi perubahan dalam aktivitas otak, terutama di bagian lobus frontal dan temporal.

Namun, studi ini menemukan bahwa marah juga bisa memiliki efek negatif pada tubuh, yaitu tekanan darah para partisipan ternyata meningkat ketika marah.

Peneliti dari University of Jena di Jerman menemukan bahwa orang yang suka melampiaskan kemarahan dan emosi negatif lain ternyata lebih lama hidup sehat,

Menurut hasil penelitian Marcus Mund dan Kristin Mitte yang dipublikasikan dalam jurnal Health Psychologies, orang-orang Italia dan Spanyol yang bertemperamen tinggi cenderung hidup setidaknya dua tahun lebih panjang dibandingkan orang Inggris yang suka menahan emosi.

Bahkan, menurut hasil riset dua peneliti itu, karakter orang Inggris yang suka mengendalikan diri justru bisa menimbulkan gangguan terhadap kesehatan fisik dan mental.

Mereka melakukan penilaian terhadap 6.000 pasien dan menemukan bahwa pasien yang tidak mengekspresikan kekhawatiran denyut jantungnya meningkat.

Kondisi ini menyebabkan tekanan darah naik dan meningkatkan peluang menderita berbagai penyakit, dari jantung koroner hingga kanker dan kerusakan ginjal.

Selama penelitian, Marcus Mund dan Kristin Mitte, juga mengidentifikasi kelompok yang disebut "repressor" yang berisiko mengalami gangguan itu.

Orang-orang ini dikenal dari cara mereka menyembunyikan ketakutan dan perilaku mempertahankan diri, kata Mund seperti dikutip laman DailyMail.

Untungnya kondisi ini tidak selalu buruk bagi orang-orang yang berusaha mengendalikan diri. Meski mereka lebih berisiko menderita penyakit tertentu, namun mereka punya kemampuan lebih cepat untuk memulihkan diri dari berbagai kondisi.

"Karena kebutuhan mereka untuk mengendalikan diri, kaum repressor sangat disiplin dan lebih termotivasi untuk beradaptasi dengan pola hidup," kata Mund.

Bagaimana Membuat Rasa Marah Sebagai Partner?
Sebuah penelitian juga sudah membuktikan bahwa mengekspresikan rasa marah dengan benar akan memberikan hasil yang positif. Beberapa contohnya adalah meningkatkan kesehatan, mempererat hubungan, meningkatkan kreatifitas, dan juga mengatasi ketidak adilan.

Rasa marah ini juga akan membuat kita merasa lebih bersemangat karena sudah menggantikan rasa lesu, rasa bersalah dan ketidakberdayaan. Rasa marah memberikan kita cukup energi untuk memberikan jalan hidup, yaitu energi yang akan membuat kita keluar dari tempat kita sekarang, menuju ke tempat yang selalu kita inginkan.

Kita setiap hari berhadapan dengan hal yang bisa membuat kita marah. Jika kita bereaksi setiap hal itu dengan rasa marah, maka kita akan selalu marah ketika hal itu terjadi lagi.

Bayangkan seseorang yang sensitif, ia selalu marah pada setiap hal yang sedikit menyinggungnya. Bukankah ini sedikit memalukan? Begitu juga dengan orang yang tidak sensitif. Seperti yang kita ketahui, marah bukanlah hal yang buruk maupun baik, namun kita harus bisa menggunakannya agar bisa bermanfaat.

Rasa marah adalah salah satu bentuk nafsu, dan jika kita tidak tahu bagaimana mengekpresikannya dengan sehat, dengan cara yang tepat, kita akan melakukannya dengan menggunakan spektrum dasar dari marah tersebut.

Hal itu juga membuat emosi positif kita tersudut. Pada akhirnya, hal itu hanya akan membuat kita tidak bahagia, menurunnya energi dan kreatifitas. Memang membutuhkan kesabaran yang luar biasa untuk membiasakan memisahkan rasa marah dengan kehidupan nyata.

Rasa marah adalah kesempatan yang sangat bagus untuk kita berubah, mungkin selama ini kita ingin menjadi enterpreneur, dan keluar dari hidup yang biasa - biasa saja. Rasa marah ini bisa memberikan motivasi kepada kita yang luar biasa karena marah merupakan energi alami yang berasal dari dalam tubuh kita.

Poet Eric Hopper pernah berkata, "Rasa marah adalah awal dari keberanian."

Dan mungkin dia perlu memperbaiki, bahwa rasa marah juga merupakan awal dari eratnya hubungan, kreatifitas dan semangat hidup.

Bukankah keberanian merupakan awal dari kesuksesan? Mari kita gunakan rasa marah sebagai suatu perasaan yang akan membantu kita menjadi lebih baik dan memberikan kita keberanian untuk mengambil resiko, karena jarang sekali ada keberanian yang bisa muncul dengan kuat dalam diri kita kecuali rasa marah.

"Keajaiban selalu datang pada orang yang berani."

Jadi...
Daya Nafsu Ammarah yang terkendali disebut BERANI, TEGAS, sekaligus BIJAKSANA dan SABAR..... inilah sebenarnya yang menjadi tujuan Latihan Tenaga dalam... Yaitu peningkatan Kesadaran serta perubahan diri menuju kondisi yang lebih sehat dan kuat lahir dan batin....

JADWAL PELATIHAN TERDEKAT, KLIK DI SINI...

Rabu, 10 April 2013

Iri Hati yang Positif dan dibolehkan

IRI POSITIF
Iri yang bersifat positif memang diperbolehkan, bahkan berlomba-lomba dalam kebaikan juga diperbolehkan...

Ciri Iri Positif.
Iri yang positif, maka semua pernyataan dan tindakan yg dilakukanpun akan positif. Bahkan memuji dan menghargai orang yang di iri tersebut dengan setulus hati...

Iri yang positif bisa juga disebut meneladani atau memodel keunggulan orang lain untuk di instal ke dalam diri.....

Itulah Iri yang positif...

Iri adalah perasaan yang dilarang dalam ajaran agama. Namun ada iri yang diperbolehkan. Yakni, iri ingin mendapatkan kenikmatan yang diperoleh orang lain yang kenikmatan itu dipergunakan dalam kebaikan, sehingga menambah rasa iri atau mengimpi-impikannya. Nah, iri yang demikian diperbolehkan.

Bagaimanakah maksud pernyataan itu? Berikut hadits-hadits yang berkaitan dengan hal tersebut.

Dari Abdullah bin Mas‘ud RA, ia ber­kata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal: (iri ter­hadap) orang yang dikaruniai Allah dengan harta kemudian membelanja­kannya dalam kebenaran dan (iri terha­dap) orang yang dikaruniai Allah dengan ilmu kemudian mengamalkannya dan mengajarkannya’.” (Muttafaq ‘Alaih).

Jadi iri yang dibolehkan ternyata ada 2 macam, yaitu orang kaya dan orang berilmu dengan syarat:
1. Kaya digunakan untuk kebaikan.
2. Berilmu (pandai) dan mengajarkannya kepada orang lain.

Terhadap dua orang itu kita boleh iri.

Syarah Hadits
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Ilmu bab Sukacita dengan Ilmu dan Pengetahuan, kitab Zakat, dan lain-lain. Sedangkan Muslim meriwayat­kannya dalam kitab Shalat bab Ke­utama­an Orang yang Mengamalkan Al-Qur’an dan Mengajarkannya.

Hasud atau iri hati itu sangat berba­haya, dan harus dijauhi. Karena, motif penyakit hasad ini adalah keinginan hilangnya kenikmatan yang diperoleh orang atau pihak lain. Caranya, dengan mengusik dengan perbuatan atau se­kadar bersumpah serapah. Perbuatan ini jelas-jelas diharamkan dalam Islam.

Namun ada hasud yang dibolehkan oleh agama, yakni iri ingin mendapatkan kenikmatan yang diperoleh orang lain yang kenikmatan itu dipergunakan da­lam kebaikan sehingga menambah rasa iri atau mengimpi-impikannya.

Hal demikianlah yang diterangkan oleh Baginda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dalam hadits di atas, yakni dibolehkannya kita mengimpikan kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh orang-orang yang diberi karunia harta dan ilmu. Begitulah bentuk syukur orang-orang yang mendapatkan keduanya dari Allah SWT. Mereka yang diberi harta mensyukurinya dengan menginfakkan hartanya di jalan yang Allah ridhai, se­dangkan mereka yang diberi ilmu men­syukurinya dengan mengamalkan dan mengajarkannya.

Dari Ibnu Umar RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Tidak boleh iri hati kecuali pada dua hal: (iri terhadap) orang yang dikaruniai Al-Qur’an dan menga­mal­kannya siang dan malam dan (iri ter­hadap) orang yang dikaruniai harta dan menginfakkannya siang dan malam.” (Muttafaq `Alaih).

Syarah Hadits
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Tauhid dan kitab Keutamaan Al-Qur’an bab Bersukacitanya Orang yang Mendapatkan Al-Qur’an. Sedang­kan Muslim meriwayatkannya dalam kitab Shalat bab Keutamaan Orang yang Mengamalkan Al-Qur’an dan Mengajar­kannya.

Hadits ini mengandung petikan pel­ajaran yang senada dengan hadits pertama. Namun secara khusus, hadits ini menyebutkan keutamaan orang yang membaca dan memahami Al-Qur’an lalu mengamalkan dalam kehidupan serta mengajarkannya bagi yang lain.

Dari Abu Hurairah RA, ia menga­takan, “Orang-orang miskin dari kalang­an Muhajirin datang mengadu kepada Rasulullah SAW, mereka berkata, ‘Orang-orang yang punya banyak harta mendapatkan kedudukan yang tinggi dan kenikmatan yang abadi.’

Rasulullah bertanya, ‘Mengapa de­mi­kian?’

Mereka menjawab, ‘Mereka me­mang shalat seperti juga kami dan mereka berpuasa seperti juga kami. Namun mereka bersedekah sedangkan kami tidak dan mereka membebaskan budak sedangkan kami tidak.’

Lalu Rasulullah SAW berkata, ‘Mau­kah kalian jika aku memberi tahu kalian tentang sesuatu yang kalian terima dan dapat melampaui mereka dan kalian berada dalam garda terdepan bagi orang-orang setelah kalian serta tak ada yang lebih utama daripada kalian semua kecuali orang yang mengerjakan apa yang kalian lakukan ini?’

Mereka menjawab, ‘Tentu, wahai Rasulullah.’

Lalu beliau berkata, ‘Hendaklah kalian bertasbih, bertakbir, dan bertah­mid setiap usai shalat masing-masing sebanyak 33 kali.

Setelah itu mereka kembali meng­ha­dap Rasulullah SAW, dan mengadu, ‘Saudara-saudara kami orang-orang kaya itu mendengar apa yang telah kami lakukan, lalu mereka pun turut melaku­kannya juga.’

Maka Rasulullah SAW bersabda, ‘Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya’.” (Muttafaq `Alaih).

Syarah Hadits
Hadits ini diriwayatkan Al-Bukhari dalam kitab Doa-doa bab Doa setelah Shalat. Sedangkan Muslim meriwayat­kannya dalam kitab Shalat bab Diboleh­kannya Dzikir setelah Shalat dan Pen­jelasan Sifat Dzikir.

Hadits ini menggambarkan kegigih­an para sahabat Rasulullah SAW dalam berlomba-lomba melakukan segala amal­an kebaikan. Sikap iri yang mereka tunjukkan di hadapan Rasulullah se­mata-mata iri untuk dapat berperan da­lam segala kebajikan yang balasannya berlipat ganda.

Ada beberapa petikan pelajaran me­narik dari hadits ini.
  1. Pertama, jalan dan cara menuju ke­baikan itu banyak dan beragam.
  2. Kedua, karunia yang Allah Azza Wa­jalla berikan kepada hamba-Nya itu be­gitu besar, yang mana setiap pemberian itu juga mengandung pahala, sesuai per­buatan yang dilakukan atas pemberian itu dan cara mensyukurinya.
  3. Ketiga, hadits ini menjelaskan keuta­maan berdzikir selain bershalawat dan anjuran untuk membiasakan dzikir.
  4. Keempat, anjuran bagi orang kaya agar dalam mengejar rahmat Allah Ta‘ala tidak mengandalkan sebahagian harta yang diinfakkannya saja, tapi juga dengan selalu melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.
  5. Kelima, bagi mereka yang miskin, hen­daknya dengan hadits ini mereka terdorong untuk mencari harta, sehingga mereka juga terdorong untuk mencapai keutamaan berinfak dengan harta yang diperolehnya.
  6. Keenam, kemudahan memperoleh karunia dari Allah Azza Wajalla adalah ujian, sebagaimana juga kesulitan untuk mendapatkannya, sehingga seorang yang beriman hendaknya bersabar di kala sulit dan bersyukur di kala mudah. Subhanallah....
Referensi : majalah-alkisah.com

Kamis, 14 Maret 2013

BAHAYA SIFAT HASAD

BAHAYA SIFAT HASAD ==> MEMATIKAN HATI & TERTUTUP DARI KEBENARAN


Hasad adalah mengharapkan hilangnya nikmat yang Allah ta’ala berikan kepada orang lain. Bahkan, semata-mata membenci nikmat yang Allah ta’ala anugerahkan kepada orang lain, itu juga dinamakan hasad. (Kitabul Ilmi¸Asy Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin).

Hasad merupakan akhlak yang tercela. Seseorang yang memiliki sifat hasad jiwanya tidak akan bisa lapang selama nikmat tersebut belum hilang dari saudaranya. Apabila saudaranya mendapat nikmat dari Allah, baik nikmat dalam perkara dunia ataupun akhirat, dadanya merasa sempit karena ada yang menyamai atau lebih tinggi darinya dalam perkara nikmat tersebut.

Banyak akibat buruk yang dapat ditimbulkan oleh sifat hasad, di antaranya adalah merendahkan dan menolak kebenaran.

Hasad-lah yang menjadikan Yahudi mengingkari kerasulan Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam kerena takut tergesernya kedudukan mereka, sebagaimana firman Allah (yang artinya),“Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran.” (Al Baqarah : 190).

Hasad-lah yang menjadikan orang-orang kafir Quraisy menentang dakwah Rasulullah karena mereka tidak ridha ada orang seperti mereka yang memperoleh derajat kerasulan, sebagaimana firman Allah (yang artinya), “Tidaklah engkau (Muhammad) adalah manusia biasa seperti kami” (Yasin : 15).

Hasad-lah maksiat pertama di langit yang dilakukan Iblis kepada Allah ta’ala sehingga dia diusir dari rahmat Allah.

Hasad pula yang menjadi maksiat pertama manusia di bumi kala seorang anak Nabi Adam membunuh saudaranya karena dengki kurbannya tidak diterima (disarikan dari Al Luma’ ‘ala Kitabi Ishlahil Mujtama’, Asy Syaikh Yahya bin Ali al Hajuri dan Mukhtashar Minhajul Qashidin, Al Imam Ibnu Qudamah)

Dengan hasad, seseorang berarti membenci apa yang telah ditakdirkan oleh Allah ta’ala secara kauni bagi saudaranya..

Sesungguhnya hasad dapat memusnahkan banyak kebaikan sebagaimana api memakan kayu karena orang yang hasad akan berusaha menjauhkan orang lain dari saudaranya dengan menyebutkan perkara-perkara yang dibenci saudaranya. Demikian pula dia merendahkan kedudukan saudaranya dan ini merupakan dosa besar yang dapat menghilangkan kebaikan.

Orang yang hasad dadanya akan terasa sempit, sesak, dan seolah-olah api membakar dadanya. Setiap kali Allah ta’ala memberikan nikmat kepada saudaranya hatinya marah dan sempit, sehingga orang yang seperti ini kapan dia akan mendapatkan ketenangan hati?

Sifat hasad akan mengurangi tingkat kesempurnaan iman seorang hamba, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak sempurna iman seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa-apa yang ia cintai untuk dirinya.” (HR Bukhari). Orang yang hasad tentu imannya tidak sempurna karena dia mencintai nikmat tertentu ada pada dirinya sementara dia membenci nikmat tersebut ada pada saudaranya.

Hasad menyebabkan seseorang berpaling dari meminta keutamaan dari Allah ta’ala. Dia selalu menginginkan nikmat yang ada pada saudaranya tanpa meminta karunia Allah ta’ala yang lainnya. Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Janganlah kamu iri hati atas apa yang Allah karuniakan kepada sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain (karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, begitu pula bagi wanita. Dan mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya” (An Nisa’ : 32)

Dengan hasad, seorang berarti mengabaikan nikmat-nikmat yang Allah ta’ala berikan kepada dirinya sehingga dia memandang rendah nikmat-nikmat Allah tersebut dan tidak mensyukurinya, sehingga dia bisa menjadi orang yang kufur nikmat.

Hasad adalah akhlak yang tercela. Karena dengan hasad seseorang akan senantiasa menjauhkan masyarakat dari orang yang dia dengki.

Apabila seorang dengki kepada orang lain, maka orang yang ia dengki akan mengambil kebaikan-kebaikannya pada hari kiamat. Apabila kebaikan-kebaikannya habis, maka kejelekan-kejelekan orang yang ia dengki akan ditimpakan kepadanya. (disarikan dari Kitabul Ilmi dengan beberapa perubahan)

Demikianlah hasad. Apabila sifat ini tumbuh subur dalam hati seorang hamba seperti benalu bagi yang membiarkannya tumbuh. Dia akan senantiasa menambah rasa sakit dalam jiwa seorang hamba serta berusaha mengusik ketenangan ruh yang akan melahirkan adu domba dan permusuhan. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memperingatkan kita dengan sabdanya “Janganlah kalian saling membenci, janganlah kalian saling mendengki, janganlah kalian saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara.” (HR Muslim).

“Sungguh beruntung orang orang yang menyucikan hatinya, dan sungguh merugi orang yang mengotorinya”
(Asy Syams: 9).

source : Buletin Muslim