Menata Hati, Mengukir Nasib.

Jangan Puas Hanya Karena Sudah Bisa Sedekah Senyuman

Rasulullah SAW bersabda bahwa anak keturunan Adam memiliki kewajiban untuk bersedekah setiap harinya sejak matahari mulai terbit. Seorang sahabat yang tidak memiliki apa pun untuk disedekahkan bertanya, "Jika kami ingin bersedekah, namun kami tidak memiliki apa pun, lantas apa yang boleh kami sedekahkan dan bagaimana kami menyedekahkannya ?"

Rasulullah SAW bersabda, "Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar makruf dan nahi mungkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah." (HR Tirmizi dan Abu Dzar).

Dalam hadis lain disebutkan bahawa senyum itu ibadah,"Tersenyum ketika bertemu saudaramu adalah ibadah." (HR Trimidzi, Ibnu Hibban, dan Baihaqi).

Senyum dalam ajaran Islam bernilai ibadah. Seulas senyuman yang disunggingkan kepada seseorang setara dengan nilai bersedekah.

Pengertian sedekah tidak terbatas hanya pada materi saja. Senyum merupakan sedekah yang paling mudah tetapi juga bisa menjadi sangat sulit diberikan oleh seseorang.

Pada dasarnya, semua orang bisa tersenyum dengan siapa saja. Namun, kadang karena ketidak seimbangan fisik maupun mental membuat sebagian orang sulit untuk tersenyum. Senyuman itu dapat menggambarkan suasana hati seseorang.

“Senyuman yang tulus dari seseorang memberikan refleksi kejiwaan positif kepada orang lain. Seorang muslim selalu diajarkan agar memiliki sifat lapang dada dan senantiasa terbuka menebarkan senyuman kepada orang lain, Lebih jauh tentang makna senyuman, seorang muslim yang tersenyum saja sama telah menebarkan kegembiraan dan kasih sayang melalui senyumannya. Sejalan dengan misi Islam menebarkan keceriaan di muka bumi ini.

Nabi Muhammad telah memelopori pentingnya senyuman agar memberikan rasa nyaman kepada orang lain. Rasulullah pernah memotivasi para sahabatnya tentang makna senyuman itu.

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh HR. Muslim, Rasulullah berpesan, “Janganlah kalian menganggap remeh kebaikan itu, walaupun itu hanya bermuka cerah pada orang lain,”.

Senyuman kini telah dikembangkan menjadi sebuah terapi yang menyejukkan diri sendiri dan orang lain. Dunia bisnis manajemen seja, kita juga mengajarkan senyuman yang memikat orang lain.

Senyuman dapat mempengaruhi penampilan seseorang sehingga orang merasa lebih dihargai dan terlayani. “Sungguh luar biasa ajaran Islam yang meletakkan dasar akhlakul karimah.

Meraih Sukses dengan sedekah
You get what you give, multiplied many times over. So, give good and give a lot.
Kau mendapatkan kembali apa yang kau berikan kepada pihak lain, berlipat ganda. Jadi berikan hanya yang terbaik, dan berikan sebanyak mungkin. ~ Universal Laws ~

Memberi bukanlah pilihan, tetapi keharusan, bila kehidupan yang sukses, kaya dan bermakna yang menjadi tujuan Anda.

Ya, ada banyak rahasia sukses. Dan kunci suksespun tidak hanya satu. Tapi tetap, yang satu ini akan selamanya menjadi rahasia sukses terbesar. Kenapa, karena begitu banyak manusia menganggap hal yang satu ini adalah efek dari kesuksesan, bukan penyebab. Terhadap rahasia yang satu ini, orang sering kali terbalik menyikapinya.

"Nanti kalau saya sudah sukses, saya akan melakukannya." begitu kata hati kebanyakan manusia.

Karena itulah, hal ini bisa disebut rahasia terbesar, karena banyaknya yang tidak memahami. Tidak heran pula kalau tidak banyak manusia yang benar-benar sukses dalam hidup mereka, karena mereka terbalik menganggap PENYEBAB sukses sebagai efeknya.

Siapapun Anda, di manapun Anda, di jaman apapun Anda hidup, inilah satu rahasia sukses terbesar yang patut Anda ketahui bila Anda berminat menikmati kehidupan yang menyenangkan di segala aspeknya.

Rahasia itu adalah .... MEMBERI, ya memberi uang atau sesuatu yang lain, memberi dalam bentuk zakat, infak, sedekah, hadiah, sumbangan, atau memberi apapun lainnya, selama memberikan sesuatu yang positif kepada pihak lain.

Inilah kunci sukses Anda. Inilah Rahasia Sukses Terbesar Anda. Inilah satu hal penting yang harus Anda lakukan TERLEBIH DAHULU agar bisa menikmati kesuksean dan kekayaan. Inilah PENYEBAB kesuksesan Anda. Bukan efeknya.

Senyum adalah sedekah. Memang dan Rasanya, orang paling awam tentang agama pun tahu. Namun, jika dikaitkan dengan konteks sedekah untuk memancing rezeki, cukupkah kita hanya bersedekah dalam bentuk senyuman?
Untuk menjawab pertanyaan itu, mari kita sedikit menengok pada hukum timbal-balik (Law of Reciprocity). Jika anda sedekah senyuman (ramah terhadap orang lain), maka orang lain pun akan ramah pada Anda. Jika Anda sedekah tenaga (ringan tangan), maka Anda akan mendapat pertolongan orang lain. Jika Anda sedekah uang, Anda akan mendapat uang. Jika uang receh yang disedekahkan, maka imbalannya pun uang receh pula.
Mau kaya-raya? Sedekahlah uang sebanyak-banyaknya!
Intinya, bersedekahlah dengan hal terbaik yang Anda miliki, jangan hanya sekadar dengan hal yang mudah. Bukan berarti saya mengecilkan sedekah berbentuk senyum. Silahkan saja kalau Anda hanya ingin menerapkan hadis “senyum adalah sedekah” sebanyak-banyaknya, jika memang itu mudah bagi Anda. Namun, belajarlah untuk melakukan sesuatu yang lebih berat, yakni bersedekah dalam bentuk uang. Karena semakin berat pengorbanan yang Anda lakukan (dilihat dari jumlah uang dan rasa sayang terhadap harta yang disedekahkan), semakin besar dan cepat pula balasannya. Tidak percaya? Buka Al Quran surat Ali Imran [3]:92.

“Kamu tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai …” (Q.S. Ali Imran [3]:92)

Terbukti kan, sedekah senyum saja tidak cukup? Nabi pun ternyata pernah berpesan,
“Sesunguhnya, pahalamu sesuai dengan kadar kepayahan dan nafkahmu.”

Sedekah: Sembunyi-sembunyi atau Terang-terangan?
Ketika ada seseorang mengupdate status di Facebook.
“Uang di dompet terkuras habis oleh motivasi Ustad Yusuf Mansur, alhamdulillah tidak ada 1 menit, Allah mengganti kembali 5 kali lebih banyak..... Allaahu Akbar, dahsyatnya sedekah …”

Seseorang lantas mengomentari status tersebut, “Huss… jangan riya!”

Sejujurnya, saya pun pernah beranggapan bahwa orang yang menyebut-nyebut sedekahnya adalah riya. Namun setelah membaca buku “7 Keajaiban Rezeki”, subhanallah, cakrawala berpikir saya menjadi terbentang luas terkait sedekah. Dan rupanya saya harus mengucapkan istighfar pula atas kekhilafan saya selama ini.

Jika Anda masih kerap ber- su’udzon terhadap orang lain yang terang-terangan menyebutkan sedekahnya, mulai sekarang berhentilah bertindak bak malaikat auditor sedekah! Memang, ada pepatah (atau hadis?) yang mengatakan, “jika tangan kanan memberi, tangan kiri jangan sampai tahu”. Artinya jelas: jangan riya!

Namun jangan lupa, sedekah diam-diam juga dapat menimbulkan ujub. Bisa jadi inilah yang terlintas di benak kita, “Si anu kok riya sih, sedekah pake bilang-bilang? Saya loh, sedekah diam-diam saja!” Dosa kita jadi dobel. Sudah menuduh orang riya, kita sendiri ujub pula!

Allah sendiri tak pernah melarang kita untuk bersedekah secara terang-terangan. Karena sedekah terang-terangan dapat menjadi syiar agama. Para sahabat nabi ternyata juga kerap bersedekah secara terang-terangan untuk menyemangati sahabat lainnya. Dalam konteks kekinian, Ustadz Yusuf Mansur, Aa’ Gym, dan Ary Ginanjar pun menunjukkan sedekahnya di depan khalayak ramai sebagai “tantangan” bagi mereka untuk melakukan hal yang sama.

Itulah yang dialami si penulis stataus di facebook tadi saat menghadiri kajian Ustadz Yusuf Mansur. Merasa tertantang oleh ajakan sang ustadz sedekah, lembar terakhir di dompetnya pun “melayang”. Alhamdulillah, dalam hitungan menit, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya. Seseorang, yang sama sekali tidak dia kenal sebelumnya, terpisah jarak ribuan kilometer darat dan laut, akhirnya memutuskan untuk membeli produk nutrisi pengelolaan berat badan yang dia pasarkan secara online, dan mentransfer pembayaran hanya berselang beberapa menit setelah dia mengeluarkan lembar terakhir isi dompetnya untuk disedekahkan. Jumlah yang ditransfer? Berlipat-lipat!

Ikhlas by Doing

Seorang kenalan pernah mengusir peminta sumbangan yang nyelonong masuk rumahnya. “Saya tolak mentah-mentah. Saya kan sudah nyumbang ke yayasan anu yang memang jelas penyalurannya. Daripada tidak ikhlas…”

Hmm… apa iya sedekah itu harus ikhlas?
Ternyata, tak ada ajaran “ikhlas dulu, baru sedekah”. Ingat waktu Anda masih kecil dulu, dan orangtua Anda memaksa Anda bangun subuh-subuh “hanya” untuk melaksanakan shalat? Itu juga yang saya alami dulu. Sungguh menjengkelkan ketika harus bangun ketika hari masih gelap hanya untuk melakukan sebuah ritual yang membosankan. Dengan kata lain, waktu itu saya melaksanakan sholat karena takut orangtua marah. Nggak ada ikhlasnya sedikit pun!

Namun seiring waktu, dengan semakin dewasanya saya, lama-kelamaan tak ada lagi rasa terpaksa. Lama-kelamaan, shalat menjadi suatu kebutuhan. Itulah yang disebut dengan ikhlas by doing versi Ippho Santosa. Hal yang sama diterapkan pada sedekah. Kalau menunggu ikhlas, kapan sedekahnya? Karena sudah menjadi sifat dasar manusia untuk kikir dan selalu menggunakan otak kiri yang penuh perhitungan.

Dan jangan lupa, ikhlas tidak ikhlas, sedekah kita akan tetap berbalas! Apa pun agama Anda. Bahkan jika Anda seorang atheis pun, jika Anda rajin sedekah, Anda akan kaya-raya. Itu karena hukum timbal-balik yang saya contohkan di atas (yang ada dalam buku "7 Keajaiban Rezeki". Jadi, rugi besar kalau Anda tidak mau sedekah lantaran “takut tidak ikhlas, ntar sia-sia sedekah saya …”

Jadi, daripada terus bertanya-tanya dan hanya menyimpan keraguan dalam hati, Anda cari saja buku “7 Keajaiban Rezeki” (Penerbit Elex Media Komputindo) untuk menyelami lebih dalam tentang sedekah, dan hal-hal lain yang bisa melejitkan rezeki dan mengubah nasib Anda dalam 99 hari, dengan otak kanan! Jika melihat integritas penulisnya; seorang mantan remaja kuper plus minder, berpenyakitan,keluarga kurang berpunya, bodoh dalam Bahasa Inggris, namun kini menjadi pakar otak kanan, penulis buku-buku mega bestseller, pembicara seminar di Indonesia dan Singapura, penerima MURI Award, dan entrepreneur beberapa bidang usaha; dijamin Anda tak akan bisa berdalih lagi untuk menentang dahsyatnya sedekah! Right?

IPPHO 'RIGHT' SANTOSA dalam bukunya yg berjudul "Percepatan Rezeki." menunjukan inti segala inti, rezeki di atas rezeki.....

Menyingkap Ke-ajaiban Ke-8 yang menggerakkan 7 Keajaiban Rezeki
Menguasai uang, waktu, dan kesehatan dalam hitungan menit
Membuat konsumen datang berbondong-bondong
Meningkatkan motivasi dan produktivitas hingga 3 kali lipat
Menjadikan kerja dan usaha sebagai bentuk ibadah tertinggi
Menyelaraskan impian perusahaan dan karyawaan
Menyiasati utang dan Akar Serabut Kerugian
Mengubah takdir dan keluar dari masalah
Membongkar Warisan Nabi dan Koin Keberuntungan

Membongkar fakta-fakta tersembunyi tentang sedekah:
- Pasti dibalas, nggak pake ‘Insya Allah’
- Pasti dibalas, nggak pake lama
- Pasti dibalas, nggak harus ikhlas
- Malaikat pun diatur dengan uang
- Jor-joran itu penting, pamrih juga penting

►Keajaiban Ke-8 adalah yakin, yakin, yakin, yakin, yakin, yakin, yakin, dan yakin bahwa Tuhan Maha Kuasa, dan tiada suatu hal pun yang mustahil bagi Nya.

►Sewaktu Anda bersedekah, ibaratnya Anda tengah berinvestasi. Bersabarlah sedikit, karena apabila telah tiba waktunya, percayalah, niscaya nilainya akan bertambah, bertambah, dan terus bertambah. Yakinlah!
~Ippho ‘Right’ Sentosa: Percepatan Rezeki Dalam 40 Hari dengan Otak Kanan~

►Derajat si kaya yang bersyukur setara dengan si miskin yang bersabar... However, mending kita pilih jadi si kaya yang bersyukur saja. Right? :)
ads
Labels: Keajaiban Sedekah

Thanks for reading Jangan Puas Hanya Karena Sudah Bisa Sedekah Senyuman. Please share...!

0 Comment for "Jangan Puas Hanya Karena Sudah Bisa Sedekah Senyuman"

Back To Top