Rabu, 03 Agustus 2011

Suluk, The Spiritual Journey & Karomah Para Kiai

Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. Menempuh jalan suluk (bersuluk) mencakup sebuah disiplin seumur hidup dalam melaksanakan aturan-aturan eksoteris agama Islam (syariat) sekaligus aturan-aturan esoteris agama Islam (hakikat). Ber-suluk juga mencakup hasrat untuk Mengenal Diri, Memahami Esensi Kehidupan, Pencarian Tuhan, dan Pencarian Kebenaran Sejati (ilahiyyah), melalui penempaan diri seumur hidup dengan melakukan syariat lahiriah sekaligus syariat batiniah demi mencapai kesucian hati untuk mengenal diri dan Tuhan.

Kata suluk berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl [16] ayat 69, Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Seseorang yang menempuh jalan suluk disebut salik.

Ulasan Buku "Karomah Para Kiai"
Karomah memang suatu kejadian yang sulit diterima akal. Walaupun begitu, karomah sering kali dijumpai dalam berbagai literatur keagamaan, termasuk dalam literatur Islam.

Karomah adalah anugerah dari Allah kepada para hamba yang dicintai-Nya. Ia adalah buah dari mujahadah dalam memerangi hawa nafsu serta keistiqamahan seseorang dalam beribadah kepada Allah Swt

Dalam kitab Tanwir al-Qulb fi Mua'malati Alam al-Ghuyub Amin al-Kurdi mendefinisikan karomah sebagai sesuatu yang luar biasa yang tidak dibarengi dengan klaim kenabian yang terjadi pada seseorang yang jelas-jelas saleh, mengikuti tradisi Rasulullah dan syariatnya serta memliki akidah yang lurus. Dalam Al-Qur'an banyak sekali ayat-ayat yang mengisahkan peristiwa yang sulit diterima akal, tetapi real terjadi. Kisah Ashhabul Kahfi misalnya yang menceritakan sekelompok pemuda yang tertidur selama ratusan tahun dalam goa, atau kisah bunda Maria sang Wanita Suci, yang melahirkan anak tanpa ayah; atau kisah Nabi Ibrahim yang dibakar oleh Raja Namrud, namun tak sedikit pun tubuhnya tak terbakar.

Karomah merupakan salah satu tanda kewalian seseorang ulama sebagaimana mukjizat yang menjadi tanda kenabian. Hanya saja kalau karomah tidak harus ditampakkan, bahkan menampakkan karomah harus dihindari sebab akan memutus suluk (perjalanan spiritual) seorang wali kepada Allah Swt.

Menurut Imam al-Qusyairi dalam ar-Risalah, se­orang wali tidak akan merasa nyaman dan peduli terhadap karomah yang dianugerahkan kepadanya. Meski­pun demikian, kadang-kadang dengan adanya karomah, keyakinan mereka semakin bertambah sebab mereka meyakini bahwa semuanya itu berasal dari Allah. (hal 3)

Imam Ibnu Atha'illah dalam al-Hikam berkata, "Kadang kala, karomah dikaruniakan Allah kepada orang yang istiqamahnya belum sempurna." Dalam proses suluk kepada Allah, seseorang akan menjumpai berbagai hambatan dan halangan. Salah satu di antaranya adalah kejadian-kejadian luar biasa yang disebut karomah. Jika dia terlena dengan kejadian-kejadian itu, proses suluk-nya akan terputus, dan dia tidak akan sampai kepada Allah Azza wa Jalla. (Hal 6)

Memang benar cerita supranatural para kiai itu tampaknya tidak masuk akal. Akan tetapi, itu hanya bagi orang yang belum mempelajari parapsychology. Bagi yang sudah mempelajarinya, atau bahkan sudah membuat eksperimen, peristiwa seperti itu sama sekali bukan sesuatu yang tidak masuk akal. Listrik, telepon, dan handphone adalah tidak masuk akal bagi orang yang belum pernah melihatnya; namun bagi orang yang telah melihat dan menggunakannya, tentu tidak demikian. Begitu pula dengan hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa supranatural yang dialami oleh para wali atau para kiai. Mereka yang belum mengerti, tentu akan sulit memercayainya, namun mereka yang telah memahami akan mafhum tentang keberadaan hal-hal yang demikian. Meskipun demikian, terkadang karomah hissiyah (fisik) perlu juga ditampakkan seperti ketika berhadapan dengan para pelaku maksiat yang membangkang atau untuk menyelamatkan orang lain.

Dengan demikian, sebenarnya karomah fisik seperti terbang di angkasa, berjalan di atas air, dan peristiwa aneh lainnya tidak sepenuhnya menjadi tanda kewalian seseorang. Tentang hal ini, Abu Yazid berkata, "Bila ada seseorang yang dapat menghampar sajadahnya di atas udara, lalu shalat atau duduk bersila di atasnya, jangan sampai engkau tertipu olehnya sampai engkau betul-betul tahu bagaimana dia me-laksanakan perintah-perintah syari'at dan bagaimana dia menjauhi larangan-larangan-Nya."

Terlepas dari semua itu, bahwa karomah itu ada memang tidak bisa terbantahkan. Keberadaan karomah didasarkan pada dua argumen. Pertama, dalil aqli (logika). Secara akal dan menurut rasio manusia, adanya karomah adalah jaiz. Artinya, tidak mustahil bagi Allah menciptakan karomah dan menganugerahkannya kepada seorang wali. Kedua, dalil naqli, yakni argumen berdasar Al-Qur'an atau Hadits, seperti kisah Maryam dan makanan dari sorga (QS. Ali Imran [3]: 37), kisah Ashhabul Kahfi (QS. al-Kahfi [18]: 17), dan kisah Ashif—salah seorang pembantu Nabi Sulaiman—yang bisa memindahkan singgasana Ratu Bilqis ke istana Nabi Sulaiman dengan jarak yang sangat jauh dalam waktu sekejap (QS. al-Qashash [28]: 40), dan masih banyak lagi dalil-dalil serupa yang bias ditemukan di dalam al-Quran.

Buku Karomah para Kiai ini merupakan koleksi cerita yang terdapat dalam dunia pesantren yang beredar di kalangan para santri mengenai kemuliaan para kiainya. Buku setebal 368 halaman ini berisi kisah karomah para kiai di Indonesia. Kisah-kisah di dalamnya tidak banyak diketahui oleh masyarakat di luar pesantren. Sehingga kemudian diharapkan dari kisah-kisah tersebut masyarakat bisa mengambil di dalamnya.

Kelebihan buku ini terletak pada usaha penulisnya mengumpulkan kisah-kisah para kiai dari berbagai buku maupun dari cerita lisan. Analisis di belakang kisah para kiai semakin menambah nilai plus buku ini. Namun, minimnya analisis ilmiah tersebut sekaligus juga membuat buku ini tak lebih dari dongeng para kiai. Analisis dalam buku ini terkesan hanya membenarkan saja apa yang terjadi dalam kisah tersebut. Penulisnya di bagian akhir cerita para kiai tersebut kebanyakan hanya menulis bahwa hal itu bisa terjadi atas kehendak yang maha kuasa, dan hal itu berulang-ulang. Selain itu penulis juga sepertinya tidak bisa membedakan secara jelas mana yang benar-benar karomah atau pun hanya linuwih atau hanya sekedar perkiraan (ramalan) yang tepat oleh seorang kiai.

Menghadirkan kembali karomah sebagai wacana kontemporer menurut penulis menjadi sesuatu yang penting. Sebab, saat ini "institusi" yang bernama kiai tampaknya tengah dirundung goncangan kewibawaan yang cukup serius. Baik lunturnya kewibawaan itu disebabkan karena para kiai ramai-ramai menceburkan diri ke gelanggang politik praktis maupun karena semakin lunturnya nilai-nilai tradisional masyarakat akibat gempuran dahsyat globalisasi.

Setidaknya ada dua manfaat yang diharapkan tercapai dalam mengangkat kembali wacana karomah. Pertama, bagi para kiai kontemporer, kisah-kisah ini dapat dijadikan cermin, sejauh mana mereka meneladani kiai-kiai sepuh. Kedua, kisah-kisah karomah kiai lokal dalam buku ini diharapkan dapat menggugah kembali kesadaran masyarakat luas dari kungkungan dunia materialistis yang semata-mata menilai semua hal dari sisi materinya serta dari pandangan-pandangan tekstualis yang lebih sering menafikan substansi dan isi.

Source : Kabar Haji (http://kabarhaji.com/pustaka/260/belajar-dari-kisah-para-kiai)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar