Menata Hati, Mengukir Nasib.

Idul Fitri dan Kebersamaan

Kami Keluarga Besar NAQS DNA mengucapkan :
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1432 H.
Taqobalallahu Minnaa wa Minkum,
Shiyamana wa shiyamakum,
Ja’alanallaahu Minal ‘Aidin wal Faizin,
Mohon Maaf Lahir Batin.


Atas perkenan dan pertolongan Allah, kita, Alhamdulillah, telah berhasil menyelesaikan ujian Tuhan terhadap kita dengan merampungkan kewajiban berpuasa sebulan suntuk di bulan Ramadan. Marilah kita rayakan dengan penuh kesyukuran dan ketakwaan, seraya merenungi hikmahnya yang agung.

Tugas puasa yang telah kita selesaikan, sebenarnya merupakan gemblengan bagi mencapai kemerdekaan diri yang sesungguhnya. Merdeka dari penjajahan penjajah paling laknat yang sekaligus kekuasaannya paling membelenggu diri kita: nafsu dan syahwat yang mendapat dukungan setan.

Dengan dukungan setan, selama ini nafsu dan syahwat telah berhasil menguasai diri dan memperbudak banyak pribadi manusia. Sehingga acapkali bahkan berhasil membuat pribadi-pribadi itu lupa kemanusiaannya. Mereka menjadi kejam melebihi binatang buas, rakus melebihi hewan, memangsa siapa saja, melalap apa saja; tak terkecuali sesama mereka. Melebihi hewan dan binatang, karena memang mereka mempunyai kelebihan-kelebihan yang tak dimiliki hewan dan binatang.

Sebenarnya, oleh kasih sayang Allah, manusia telah dibekali hati nurani dan akal pikiran yang didukung oleh malaikat, bagi mendapatkan kesempuranaan hidayah. Hati nurani dan akal pikiran itulah yang merupakan sumber dari segala kelebihan manusia. Dengan nurani dan akal pikiran itu sebenaranya manusia, bisa mencapai ketinggian martabat paling tinggi di atas makhluk-makhluk Allah yang lain. Namun, seringkali nafsu dan syahwat dipesonakan setan kepada gemerlap dan kenikmatan kehidupan duniawi sesaat, sehingga mengaburkan mata hati manusia dan kemudian menjerumuskannya ke jurang kerendahan paling rendah.

Di bulan suci Ramadhan kemarin, sementara setan dibelenggu, nafsu dan syahwat kita hajar. Ruang-geraknya kita batasi. Sementara, dominasi atas diri, kita kembalikan kepada nurani dan akal pikiran. Kita pun menjadi manusia yang benar-benar merdeka.

Setelah merdeka dari penjajahan nafsu dan syahwat kita sendiri, melawan dan mengusir penjajah dari luar kita kiranya akan lebih ringan. Maka, berbahagialah mereka yang di bulan bahagia ini dan seterusnya dapat mempertahankan kemanusiaan dan kemerdekaannya.

Agaknya, di samping tentu saja berkat taufik Allah, kemauan keras dan terlebih-lebih kebersamaan kita telah membuat musuh dalam diri kita bersama itu tidak dapat berbuat banyak. Puji dan syukur kepada Allah. Kalaulah kita bertekad mempertahankan kemenangan dan kemerdekaan ini, bertekad terus waspada melawan musuh kita itu, apakah kita akan tetap dalam kebersamaan, ataukah kita akan sendiri-sendiri menghadapi mereka?

Dalam kebersamaan, ternyata kita menjadi jauh lebih perkasa. Bukan saja karena keterbatasan masing-masing, kita menyatu saling mengisi menjadi kekuatan yang tak terbatas; tapi lebih dari itu, dalam kebersamaan–tidak seperti dalam kesendirian–rasa malu dan sungkan, terutama kepada Allah, dapat membudaya; sesuatu yang dapat menjadi benteng ampuh menghadapi gencar dan canggihnya godaan. Dengan kebersamaan, terbukti tugas-tugas berat pun menjadi terasa ringan kita lakukan dan kenikmatan terasa lebih nikmat kita enyam. Dan kebersamaan bukan lain merupakan ciri mereka yang sehati. Ciri orang-orang mukmin. Ciri kita, seperti Firman Allah di ayat 71 surat 9. al- Taubah,“Dan orang-orang mukmin lelaki dan orang-orang mukmin wanita, sebagian mereka adalah kekasih sebagian yang lain; mereka menyuruh kepada makruf dan mencegah kemungkaran, mendirikan shalat, menunaikan zakat, mentaati Allah dan Rasul-Nya. Merekalah orang-orang yang akan dirahmati Allah. Sesungguhnya, Allah itu Maha Perkasa dan Maha Bijaksana.”

Nah, dalam rangka membina kondisi dan menjaga kebersamaan itu, marilah modal spiritual Ramadhan, kita manfaatkan sebaik-baiknya. Kita jaga agar diri-diri kita tetap akrab dengan kemanusiaan kita dan keimanan kita. Kita jaga agar musuh dalam diri kita tidak berdaya memperdayakan kita terutama dalam usahanya mengurai ikatan Allah atas sesama kita. Jangan kita biarkan musuh kita menggunakan perbedaan-perbedaan status, aspirasi dan pendapat diantara kita, sebagai belati pengoyak persaudaraan yang telah ditetapkan Allah atas kita.

Kiranya, masih dalam rangkaian menjaga kebersamaan itu juga, setelah kita ber-husnuddhan kepada Allah bahwa hari ini Allah telah mengampuni dosa-dosa kita, marilah kita saling melebur dosa-dosa di antara kita sendiri dengan saling memaafkan, seraya bertekad untuk tidak mengulangi kesalahan. Sehingga dengan demikian, sempurnalah kesucian diri kita; bersih dari dosa kepada Allah SWT dan bersih pula dari dosa kepada sesama. Dan kita bisa memulai kembali hidup dan kehidupan ini dalam kesucian dan kefitrian. Semoga.

Melestarikan Suasana Lebaran.
Sudah merupakan tradisi, setiap lebaran, orang-orang –terutama kaum muslimin—berusaha untuk saling mengunjungi, melakukan silaturahmi (atau silaturrahim). Saling meminta maaf dan saling halal-menghalalkan. Bahkan dari tempat-tempat jauh orang datang untuk keperluan ini. Tradisi mudik yang begitu luar biasa itu, tak pelak juga didorong oleh keperluan ini.

Bayangkan, berapa juta kira-kira jumlah mereka yang mudik itu? 15-20 juta? Berarti kira-kira setara dengan penduduk Saudi Arabia, Malaysia, atau Autralia. Betapa kuatnya motivasi yang mampu menggerakkan ‘perpindahan penduduk’ besar-besaran untuk itu dengan segala pengorbanan berupa materiel maupun morel. Wahai, bisakah kita menciptakan motivasi yang begitu ampuh untuk hal-hal besar yang kita perlukan dan cita-citakan?!

Secara pribadi, sudah seperti tradisi juga, setiap lebaran, banyak orang datang ke rumah. Tidak seperti hari-hari biasa dimana lazimnya orang datang ke rumah dengan tujuan tidak hanya bersilaturahmi, di hari-hari lebaran ini, mereka yang datang umumnya mligi, semata-mata bersilaturrahim. Alhamdulillah.

Sebagaimana lebaran pada tahun-tahun sebelumnya, mereka yang datang memberkahi rumah saya terdiri dari berbagai lapisan, golongan, etnis, ras, dan agama. Kawan-kawan dari berbagai organisasi, politisi dari berbagai partai dan kubu, hingga saudara-saudara saya kaum awam, baik yang Ied-nya Senin atau Selasa; bergiliran datang dengan keakraban yang wajib saya syukuri. ‘Suasana Indonesia’ benar-benar terasa sekali.

Mereka yang berbeda agama, berbeda organisasi, berbeda partai, berbeda kubu, berbeda, sampai yang berbeda hari raya, bertemu dalam majlis lebaran yang penuh rahmat-persaudaraan. Luar biasa. Kadang-kadang sama-sama Islam atau sama-sama NU, berbeda hari-raya-nya; tapi tampak sekali bahwa Tuhan mereka hanya satu: Allah.
“Sampeyan lebaran Senin atau Selasa?”
“Saya ikut pemerintah. Selasa.”
“Saya juga Selasa, ikut pengurus besar saya.”
“Saya ikut pimpinan saya, Senin.”
“Saya juga Senin ikut pengurus wilayah saya.”
“Saya hari raya Senin, tapi ikut salat ‘Ied Selasa.”
“Di tempat saya malah aneh. Ada yang hari raya Selasa tapi mengimami salat ‘Ied Senin.”
Kemudian terjadi dialog dan diskusi tentang topik lebaran itu dengan santai penuh keakraban. Tak satu pun di antara mereka yang berbicara dengan nada menyalahkan yang lain. Sesuatu yang jarang terjadi pada forum lain, dengan topik lain, di waktu lain, dan situasi lain. Alangkah asyiknya bila berbagai masalah dan perbedaan di negeri kita ini disikapi demikian.

Kalau dipikir-pikir, masalah Ied atau hari raya ini, lebih kental kaitannya dengan ubudiyah, dengan akherat. Bagi sebagian atau kebanyakan orang, yang seperti ini justru dianggap lebih prinsip. Tetapi mengapa mereka bisa sedemikian toleran terhadap perbedaan? Apa rahasianya?

Boleh jadi suasana lebaran dimana kaum muslimin baru saja digembleng, terutama dalam pelatihan menahan diri sebulan penuh, masih disarati oleh kuatnya pengaruh gemblengan Ramadan itu. Apalagi sesuai husnuzhzhan kita, kaum muslimin yang dengan tekun melaksanakan ibadah puasa dan qiyaamullail –lillahi ta’alaa-- di bulan suci tempo hari, telah diampuni dosa-dosanya oleh Allah. Dengan tiadanya dosa, otomatis dada menjadi lebih lapang. Orang-orang lebih mudah meminta maaf atau pun memberi maaf. Lebih toleran.

Ada satu hal lain yang penting dicermati; yaitu: keakraban dan toleransi tersebut justru menampakkan diri dalam suasana yang mendukung. Suasana silaturrahmi.

Apabila pengamatan ini benar, barangkali kita bisa menular-ratakan kondisi dan suasana keakraban dan toleransi itu ke wilayah yang lebih luas; dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, dengan cara mengawetkan apa-apa yang kita yakini dapat mewujudkan kondisi dan suasana tersebut.

Hal-hal penting yang perlu kita awet-lestarikan, sesuai pengamatan kita di atas, antara lain:
  1. Meneruskan latihan menahan diri.
  2. Meneruskan ibadah lillahi ta’alaa.
  3. Meneruskan kebiasaan silaturrahim di antara kita.
Apabila minimal tiga hal ini bisa kita lestarikan pada bulan-bulan Syawal dan seterusnya, insya Allah suasana kondusif seperti disinggung di atas yang selama ini memang kita harapkan, mudah terwujud.

Ini ngoyoworo apa tidak ya?

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
(KH. A. Mustofa Bisri, Pengajar di Pondok Pesantren Taman Pelajar Raudlatut Thalibin, Rembang, Jawa Tengah.)
ads
Labels: Tausyiah

Thanks for reading Idul Fitri dan Kebersamaan. Please share...!

0 Comment for "Idul Fitri dan Kebersamaan"

Back To Top