Menata Hati, Mengukir Nasib.

39. Al Hafizh

Al Hafizh ialah Dzat yang memelihara segala sesuatu dari kemusnahan dan kerusakan, dan memelihara amal perbuatan hamba-hamba-Nya sampai akhirnya diberinya ganjaran dengan karunia dan anugerah-Nya. Dalam arti lain, Al-Hafizh itu ialah Dzat yang memelihara makhluk dari semua bencana di dunia dan di akhirat.

Dikatakan pula bahwa makna Al-Hafizh ialah Yang Maha Memelihara. Ini tidak dapat dipahami kecuali dari tiga aspek:

Pertama, mengabadikan dan mengekalkan keberadaaan segala yang ada-lawannya adalah melenyapkan. Allah SWT ialah Dzat yang memelihara langit, bumi, malaikat dan makhluk-makhluk lainnya yang panjang masa hidupnya; atau manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan yang tidak panjang masa hidupnya.

Kedua, Al-Hafizh mempunyai makna memelihara yang lebih nyata. Yaitu memelihara antara dua sifat yang saling bertentangan. Sifat yang bertentangan dan bertolak be1akang itu tampak jelas, seperti panas dan dingin yang satu me1awan yang lain. Demikian juga antara sifat kering dan lembab, dan semua tubuh yang berasal dari tanah yang terbentuk dari asal yang bertentangan ini. Sebab, hewan mesti memerlukan panas alami, yang seandainya tidak ada, tentu kehidupannya akan rusak, seperti darah dan lain-lain. Selain itu ia juga memerlukan sifat kering yang dengannya seluruh anggota tubuhnya saling mengikat, khususnya anggota tubuh yang keras. Tubuh juga memerlukan sifat dingin supaya ia tidak terbakar, dan supaya zat-zat di dalam tubuh menjadi normal. Allah telah menghimpunkan semua unsur yang saling bertentangan ini di dalam tubuh manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, dan seluruh makhluk. Kalau Allah, tidak memeliharanya, tentulah semua sifat yang saling bertolak belakang itu menjadi berjauhan dan
akan kacaulah campurannya.

Ketiga, mulurnya sesuatu yang bertolak belakang itu dengan apa yang mengembalikan kekuatan guna menjamin tetapnya segala yang maujud. Misalnya, sifat panas itu melenyapkan dan mengeringkan sifat lembab. Jika sifat lembab itu kalah, maka akan menjadi lemahlah tubuh dan ia lalu menuntut pelembab, seperti air atau lainnnya, guna mengembalikan keseimbangan keduanya. Demikianlah keadaan semua sifat yang bertolak belakang itu. Ini merupakan sebab-sebab yang telah disiapkan oleh Sang Pencipta guna memelihara segala bentuk kehidupan yang ada dari kebinasaan. Terkadang kebinasaan itu berrasal dari sebab-sebab khusus, seperti diserang oleh binatang buas atau musuh bebuyutan. Maka Allah memelihara dari hal-hal itu dengan menciptakan baginya suatu alat bela diri, seperti cakar, kekuatan, dan siasat. Kalau bukan karena itu, niscaya makhluk-makhluk itu tidak akan mampu membela dirinya sehingga akan binasa dan musnahlah ia. Pembicaraan tentang uraian pemeliharaan Allah atas langit dan bumi ini sebenarnya sangat panjang seperti halnya semua perbuatan Allah, yang dengannya dapat dipahami makna ism ini; bukan dengan mengambil dari asal bahasanya, namun dengan tadabbur (merenunggkan) dan musyahadah (menyaksikan).

Keberuntungan seorang hamba dari ism ini mensyaratkan agar ia memelihara anggota tubuh dan hatinya serta memelihara agamanya dari pengaruh marah, cengkeraman syahwat, serta tipuan nafsu dan tipu daya setan.

Khasiatnya
Barangsiapa berzikir dengannya atau menuliskannya dan membawanya di tempat yang menakutkan, maka ia akan selamat, sekalipun ia tidur di tempat binatang buas.
ads
Labels: Power Khasiyat Asmaul Husna

Thanks for reading 39. Al Hafizh. Please share...!

0 Comment for "39. Al Hafizh"

Back To Top