Menata Hati, Mengukir Nasib.

Filosofi Air dari AJI TIRTA JATI

Sahabat...
Ilmu Aji Tirta Jati adalah mengambil Karakter dari unsur air. Dimana air selalu mengalir ke tempat yg lebih rendah...Jadi bersikaplah untuk selalu merendah & Tawadlu', dan jauhi sifat sombong serta arogan...

Di bawah ini saya persembahkan berbagai makna filosofis terkait dengan Unsur Air yg saya ambil dari berbagai sumber. Silahkan sahabat juga mencari referensi-referensi yang lain mengenai filosofi air ini. Agar para sahabat betul-betul dapat mengamalkan Ilmu Aji Tirta Jati ini dengan sempurna, serta meraih keselamatan hidup di dunia dan di akherat....

AIR
Air bersifat mengalah, namun selalu tidak pernah kalah...
Air mematikan api dan membersihkan kotoran...
Kalau merasa sekiranya akan dikalahkan, air meloloskan diri dalam bentuk uap dan kembali mengembun...
Air merapuhkan besi sehingga hancur menjadi abu...
Bilamana bertemu batu karang, dia akan berbelok untuk kemudian meneruskan perjalanannya kembali...
Air memberikan jalan pada hambatan dengan segala kerendahan hati, karena dia sadar bahwa tak ada satu kekuatan apapun yang dapat mencegah perjalanannya menuju lautan...
Air menang dengan mengalah, dia tak pernah menyerang namun selalu menang pada akhir
perjuangannya

Tujuh filosofi air :
  1. Air adalah sumber kehidupan.
  2. Sejuk.
  3. Dapat dijadikan cermin saat tenang,
  4. Tidak serakah,
  5. Fleksible & luwes
  6. Rendah hati & Tawadlu (memandang ke bawah)
  7. Memiliki tekad yang kuat.
"Jadilah Seperti air"
di ambil dari buku cerita yang berjudul Bruce Lee 40 Spirit of Success
karya Bpk Andrie Wongso

Bruce Lee Begitu mengagumi air. Tak heran jika filosofinya air diterapkan pula pada ilmu bela diri Jeet Kune Do, yaitu Fleksibilitas, adaptif, lembut, namun Kuat.

Menjadi seperti air berarti Fleksibel. di dalamnya tersimpan kelembutan, kekuatan, kehidupan sekaligus kebijaksanaan.

Air adalah zat yang adaptif, bisa berada dimana saja, tetapi juga kuat. Tak tertangkap oleh Genggaman tangan tetapi bisa dirasakan kehadirannya.

Air lembut tak, berujung, dan tidak tajam, menunjukkan ia bisa jadi sahabat. Tetapi air bisa keras, kuat dan tegas.

Tetesan air yang terus menerus bisa melubangi kerasnya batu karang atau bisa membuat besi yang kuat berkarat dan hancur.

Air juga bisa melahirkan bencana yang tak tertaklukkan. Ombak yang bergulung, bencana besar Tsunami, atau banjir menjadi peringatan betapa dahsyatnya kekuatan air. Selama kita mampu menyelami sifat air, air bisa menjadi sahabat tiada duanya. Karena kita tahu, tanpa air tak akan ada kehidupan ini.

Mari jadikan diri kita laksana air. Bersifat rendah hati seperti sifatnya air yang selalu mengalir ketempat yang lebih rendah. Fleksibel dalam menghadapi beban ujian dan cobaan, tegas dan kuat menghadapi tantangan, serta selalu mampu membawa kebaikan, bagi diri sendiri & semua makhluk. Sehingga hidup akan seimbang berarti dan bahagia.

HIDUP SEPERTI AIR
Filosofi HIDUP SEPERTI AIR atau menurut masyarakat Tionghoa dikenal juga dengan istilah Tao Te Ching ternyata berbeda dengan “hidup seperti air mengalir”. Prinsip hidup seperti air lebih mengarah pada sifat global air itu sendiri, sedangkan hidup seperti air mengalir lebih mengarah pada salah satu sifat air yang selalu mengalir kesegala arah.

Lalu kenapa kita harus hidup seperti air ?, atau paling tidak filosofi apa yang bisa kita ambil dari air ?

Pertama, selain mempunyai sifat mengalir, air juga mempunyai sifat menguap. Naik keatas dan bertemu, berkumpul dan bersatu dengan uap air yang berasal dari berbagai tempat, dan dari pertalian ikatan ini akhirnya terbentuklah awan. Gumpalan awan ini kemudian bertemu dengan gumpalan-gumpalan lainnya sehingga semakin berat dan turunlah hujan yang menyejukan. Sifat ini hendaknya ditiru oleh kita, yaitu begitu pangkat dan kualitas hidup kita bisa lebih baik dan diatas orang lain, seharusnya kita bisa bersatu padu dengan orang-orang yang sama-sama diberikan derajat lebih untuk kemudian berusaha semaksimal mungkin menyejahterakan banyak orang.

Kadang sering ada yang menjadikan teori diatas sebagai alasan mengapa hidup harus seperti air yang mengalir, padahal teori diatas bukanlah tentang “air mengalir” melainkan ½ dari ”siklus air”. Sedangkan “air mengalir” bagian dari “Siklus air”.

Kedua, air mempunyai sifat membersihkan. Tentunya tidak semua air bisa membersihkan, air yang bisa membersihkan tentunya harus air yang bersih juga. Hikmahnya buat kita, hendaklah kita menjadi pribadi yang bisa mempengaruhi orang lain untuk berada dijalan yang baik, benar dan bersih, dan untuk itu tentunya kita harus membersihkan diri sendiri terlebih dahulu tentunya.

Ketiga, air mempunyai sifat halus dan lembut tapi tegas. Air bisa datang dalam jumlah yang sangat besar tapi juga bisa seketika hilang tanpa jejak. Saya lebih percaya kalau materi di muka bumi ini yang paling lembut sepertinya air, setiap kita sentuh ia sangat halus, saking halusnya kita tidak bisa mengukur seberapa tebal ukuran inti air. Tetapi, meskipun air terlihat dan terasa begitu tenang, lembut dan menyejukan, manakala ia “bertindak atas perintah Allah SWT” untuk memberikan peringatan kepada umat manusia maka efeknya sangat dahsyat mampu meluluh lantahkan dunia lebih dari sebuah bom atom. Pelajarannya buat kita adalah kita harus menjadi pribadi yang lemah lembut, santun, menentramkan tapi tidak loyo, tidak cemen. Tenang tapi punya ketegasan yang tidak bisa disepelekan dan direndahkan.

Keempat, hadirnya air selalu dibutuhkan dan dirindukan oleh siapapun. Mudah-mudahan dengan berkaca pada peran air, kita bisa berusaha menjadi manusia yang setiap kehadirannya selalu dibutuhkan dan sangat dirasakan manfaatnya oleh orang lain, sehingga kita tidak menjadi terbuang dan terkubur didalam sampah sejarah.

Kelima, berubah bentuk tapi tidak berubah sifat. Sobat perhatikan bak mandi yang berisi air secara penuh, misalnya bak tersebut berbentuk kubus, otomatis air yang didalamnya karena mempunyai sifat menekan ke segala air bentuknya juga menjadi kubus mengikuti bentuk bak mandi. Air tersebut kemudian sobat pindahkan kedalam drum yang mempunyai bentuk silinder, otomatis air tersebut bentuknya juga menjadi silinder karena menyesuaikan bentuk drum.

Ketika air berada didalam bak mandi dan bentuknya menyesuaikan bak mandi, ia tetaplah air, air dengan segala ciri khas, sifat dan karakternya. Begitu juga ketika air dipindahan kedalam sebuah drum, ia tetaplah air yang masih dengan segala ciri khas, sifat dan karakternya. Ia tidak berubah menjadi minyak ataupun yang lainnya. Gambarannya, dimanapun kita berada hendaklah kita tetap mempunyai kepribadian yang kuat, keimanan yang teguh, yang tidak mudah terpengaruh oleh perubahan kondisi dan lingkungan.

Keenam, air tidak bisa dibelah, selalu mengalah tapi tidak pernah kalah. Sobat perhatikan saat air dikolam atau dimanapun, dengan cara apapun ia dibelah tetap ia akan bersatu kembali. Dengan satu hentakan pukulan keras mungkin air tersebut tercerai-berai menciprat kesegala arah. Tapi ia akan tetap kembali bersatu lagi. Hikmahnya buat kita, apalagi kalau bukan semangat persatuan dan persaudaraan. Air sangat mudah berbaur dengan sesama air, sudah selayaknya kita juga bisa berbaur dan bersatu-padu antar sesama manusia terlebih lagi disatu bangsa yang sama.

“Allah telah menurunkan air (hujan) dari langit, Maka mengalirlah air di lembah-lembah menurut ukurannya, Maka arus itu membawa buih yang mengambang. dan dari apa (logam) yang mereka lebur dalam api untuk membuat perhiasan atau alat-alat, ada (pula) buihnya seperti buih arus itu. Demikianlah Allah membuat perumpamaan (bagi) yang benar dan yang bathil. Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya; Adapun yang memberi manfaat kepada manusia, Maka ia tetap di bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.”
(Ar-Ra’d: 17)

Allah mengumpamakan yang benar dan yang bathil dengan air dan buih atau dengan logam yang mencair dan buihnya, yang benar sama dengan air atau logam murni, yang bathil sama dengan buih air atau tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada gunanya bagi manusia. Masih banyak lagi Allah menyatakan karunia air bagi kehidupan dunia dalam Al-Quran.

Selalu Menempati Ruang

“Berbicaralah sesuai dengan bahasa kaumnya…”

Sifat air, seperti yang diajarkan oleh guru di tingkat sekolah dasar, salah satunya adalah menempati ruang. Dituangkan ke dalam wadah berbentuk apapun, air akan selalu mengikuti bentuk wadah itu. Begitulah air, ia dapat memosisikan dirinya sesuai situasi dan kondisi (sikon) yang sedang dialaminya. Manusia sewajarnya juga mampu untuk selalu menyesuaikan satu sama lain agar terjalin komunikasi yang saling dipahami.

Bergerak vs Diam, Energi vs Penyakit
Selain itu, manusia-mengikuti filosofi air-dituntut untuk bergerak. Bila air bergerak, maka benda-benda yang ada di hadapannya akan terbawa arus. Semakin besar debit air, maka semakin besar energi yang dapat diberikan oleh air. Di banyak tempat, potensi energi air yang besar ini dimanfaatkan untuk memutar turbin air, kemudian turbin akan memutar generator listrik untuk menjadi sumber energi. Tempat-tempat ini dikenal dengan nama Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Namun, saat air itu diam, maka ia tidak akan memberikan pengaruh apapun terhadap benda-benda di sekitarnya. Bahkan, air yang menggenang justru akan menimbulkan penyakit, menjadi tempat berkembangbiaknya jentik-jentik nyamuk. Allah SWT telah memerintahkan manusia untuk terus beramal shalih. Banyak ayat Allah dalam Al-Quran yang berkaitan dengan perintah ‘amal shalih, diantaranya:

فإذافرغت فانصب

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain,”(Al-Insyirah: 7)

Sebagian muffasirin berpendapat apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah, maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia, maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan; apabila telah selesai mengerjakan shalat, berdoalah.


فإذاقضيت الصلوة فانتشروافي الأرض وابتغوامن فضل الله واذكرواالله كثيرًالعلكم تفلحون

“Apabila telah ditunaikan shalat, Maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.”(Al-Jumu’ah: 10)

Meninggalkan Basah
Setelah melewati suatu benda, biasanya air akan meninggalkan basah pada benda tersebut. Hal ini berlaku untuk benda tegak (vertikal), maupun mendatar. Benda yang telah dilewati air akan kering setelah beberapa saat, mulai dari hitungan detik hingga jam. Pun demikian dengan manusia, pengaruhnya dituntut untuk tetap eksis meski ia telah tiada, baik karena sudah berpindah tempat ataupun wafat.

Contoh konkret, kita dapat meneladani (karena tidak akan bisa menyamai) Muhammad, Rasulullah SAW. Dilahirkan dari peradaban primitif serta jauh dari perkembangan global di zamannya, beliau sanggup membumikan ajaran Islam. Ajaran yang masih paling asli hingga detik ini dari semua ajaran lain. Beliau masih meninggalkan ‘basah’ yang asli hingga berabad lamanya, hatta lebih dari kemampuan air itu sendiri. Alasan inilah yang menempatkannya di posisi tertinggi dalam 100 Tokoh Paling Berpengaruh Di Dunia, karya Michael H. Hart. Lalu bagaimana dengan kita? Tetaplah berusaha untuk terus melakukan ‘amal shalih agar meraih ridha Allah.

Filosofi Air Dalam Teko
Apakah mungkin terjadi, jika di dalam sebuah teko yang berisi air teh, tiba-tiba pada saat dituang berubah menjadi kopi ?, atau apakah mungkin jika air yang ada dalam teko kotor, maka pada saat dituang air itu berubah menjadi bersih ?, pasti akan tetap kotor dan tidak mungkin menjadi bersih, artinya apa yang ada di dalam teko akan pasti sama dengan yang keluar di mulut teko.

Demikian juga halnya dengan interaksi sehari-hari (yang menggunakan Ucapan dan Sikap dalam menyampaikan keinginan). Kita biasa mengatakan “Jaga Mulut Kamu”, yang sebenarnya itu adalah salah kaprah. Mulut tidak bisa dijaga karena ia berada di bawah perintah, makanya ia boleh berkata : ”Jangan salahkan saya dong, saya hanya menjalankan perintah”. Sama halnya dengan mulut teko, juga tidak mau disalahkan karena mengeluarkan air kotor, “Habis, air yang di dalam tekonya kotor”, katanya.

Tentu kita tidak bisa menyalahkan bahwa orang yang sedang marah mengeluarkan kata-kata kasar, membentak, mata melotot dan menggabrak meja, bahkan mungkin semua nama binatang di Ragunan meluncur dari mulutnya, karena itulah refleksi dari Suasana Hati yang sedang dirasakannya.

Suasana Hati, wilayah inilah yang harus dikontrol, karena di sinilah pusat pengendalian terhadap ucapan dan sikap kita dalam berkomunikasi. Kita tentu memilih kata-kata yang menyenangkan pada saat suasana hati kita dalam keadaan senang, tapi kita tidak mungkin berucap dan bersikap menyenangkan pada saat kita kesal.

Seorang pemain sinetron tidak bisa bersikap dan mengucapkan kata-kata yang mencerminkan kesedihan, karena pada saat itu suasana hatinya masih riang gembira. Selama suasana hatinya masih diliputi kegembiraan maka take dan cut akan terus meluncur dari mulut sang sutradara.

”Suasana Hati” terkait dengan ”Warna Pikiran”.

Salah satu syarat keberhasilan komunikasi adalah Warna Pikiran dari pihak yang melakukan komunikasi tersebut dalam keadaan jernih dan tidak diliputi oleh pikiran yang negatif seperti kesal, angkuh, prasangka buruk, melecehkan, dan sebagainya, seperti jangan memanggil dan menasihati anak buah pada saat suasana hati Anda marah dan kesal terhadapnya, karena tujuan Anda untk menyadarkannya tidak akan tercapai. Yang tercapai adalah bahwa Anda menjadi plong karena sudah memuntahkan kemarahan Anda kepadanya.

Jadi, pesan yang ingin disampaikan oleh Filosofi Air Dalam Teko ini adalah bersihkan air di dalam teko, baru dituang, atau jernihkan suasana hati, baru ngomong.

Wallahu’alam.

وأنليس للإنسنإلاماسعى٠وأن سعيه سوف يرى٠ثم يجزه الجزآءالأوفى٠وأنإلى ربك المنتهى

“Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya). Kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhamulah kesudahan (segala sesuatu),”(An-Najm: 39-42)

Dari berbagai sumber.
ads
Labels: AJI TIRTA JATI

Thanks for reading Filosofi Air dari AJI TIRTA JATI. Please share...!

0 Comment for "Filosofi Air dari AJI TIRTA JATI"

Back To Top