Menata Hati, Mengukir Nasib.

Perbaikan Akhlak adalah Visi & Misi NAQS DNA

“Sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak yang agung”
(QS. Al qalam : 4).

HAKIKAT AKHLAK
(Telaah Menurut Kitab Ihya ‘Ulumuddin)

Hakikat pengertian budi pekerti atau akhlak menurut Imam Al-Ghozali dalam kitabnya, Ihya ‘Ulumuddin ialah suatu bentuk dari jiwa (State Of Mind) yang benar-benar telah meresap dan dari situlah timbul berbagai perbuatan secara spontan, tanpa dibuat-buat, dan tanpa membutuhkan pemikiran untuk bertindak. Apabila dalam dirinya timbul perbuatan baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran, maka dinamakan akhlakul karimah atau budi pekerti yang luhur. Sebaliknya apabila yang timbul adalah kelakuan-kelakuan yang buruk maka dinamakan akhlakul mazmumah atau budi yang tercela.

Akhlak bukanlah perbuatan secara fisik. Akhlak lebih kepada jiwa yang tidak secara konkret. Perumpamaan dari pernyataan ini adalah apabila orang yang dasar budinya pemurah tapi ia kebetulan tidak memiliki apa-apa untuk didermakan dan ia tidak bisa disebut sebagai orang yang kikir atau pelit. Sebaliknya, ada orang yang memiliki sifat dasar kikir, namun dia suka memberi karena ada suatu dorongan seperti ria maka orang yang seperti ini tidak bisa disebut sebagai orang yang dermawan. Akhlak bukan pula suatu kekuatan atau daya untuk melakukan sesuatu. Akhlak lebih cenderung kepada fitrah manusia yang tentunya dipengaruhi oleh pendidikan dan lingkungan.

Kesempurnaan akhlak tercipta dan terwujud dalam rupa batin seorang insan. Ada empat syarat yang harus diseimbangkan dalam penyempurnaan keindahan batin. Keempat syarat tersebut yaitu : pertama, daya ilmu,,kedua, kekuatan mengendalikan amarah.ketiga, kekuatan mengendalikan hawa nafsu, dan terakhir, menyeimbangkan ketiga sifat tersebut.

Daya ilmu menjadi sempurna bila kita bisa membedakan hal yang benar dan hal yang salah. Bila daya ilmu sudah tumbuh, dengan sendirinya akan melahirkan hikmah kibijaksanaan yang merupakan puncak dari budi yang luhur. Dengan hikmah kebijaksanaan, amarah dan hawa nafsu akan lebih terkendali sesuai dengan batas-batas syariat agama. Tenaga untuk menyeimbangkan ketiga hal tersebut berada dibawah petunjuk akal dan syariat.

Allah swt berfirman :
“ Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebijaksanaan yang banyak ( Al-Baqoroh : 269 ).

Dalam hal ini akal merupakan penasihat yang jujur sedangkan daya adalah pelaksana yang sesuai dengan petunjuk daya pikir. Marah adalah tempat terlaksananya petunjuk akal. Untuk bisa menguasai amarah, diperlukan latihan pengendalian diri dan tidak menuruti emosi. Sama halnya dengan hawa nafsu. Maka barang siapa yamg memiliki semua sifat tersebut secara seimbang, dialah orang yang berakhlak secara mutlak. Jika hanya sebagian yang seimbang, maka hanya termasuk berakhlak baik dalam hal-hal tertentu saja atau hanya cantik sebagian.

Adapun sumber dari segala akhlak yaitu, pertama, hikmah yaitu keadaan jiwa seseorang yang bisa menemukan hal-hal yang benar dan menjauhi hal-hal yang salah, kedua, keberanian yaitu keadaan seseorang yang memiliki sifat marah yang dituntun oleh akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya, ketiga, kelapangan dada yaitu suatu usaha untuk mendidik nafsu syahwat dengan akal pikiran dan syariat, dan terakhir adalah keadilan yaitu keadaan jiwa ynag dapat membimbing amarah dan nafsu sesuai dengan hikmah kebijaksanaan.

Sifat mulia lainnya hanya cabang dari empat sifat tersebut dan tidak ada orang yang bisa mencapai kesempurnaan ahlak kecuali Rosululloh saw. Namun, kita sebagai umat Muhammad haruslah berusaha untuk mendekati sifat kesempurnaan itu.

RASUL DIUTUS UNTUK MENYEMPURNAKAN AKHLAK
Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam, rasul kita yang mulia mendapat pujian Allah. Karena ketinggian akhlak beliau sebagaimana firmanNya dalam surat Al Qalam ayat 4. bahkan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam sendiri menegaskan bahwa kedatangannya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang ada pada diri manusia, “Hanyalah aku diutus (oleh Allah) untuk menyempurnakan akhlak.” (HR.Ahmad, lihat Ash Shahihah oleh Asy Syaikh al Bani no.45 dan beliau menshahihkannya).

Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu seorang sahabat yang mulia menyatakan : “Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik budi pekertinya.” (HR.Bukhari dan Muslim). Dalam hadits lain anas memuji beliau shalallahu ‘alahi wasallam : “Belum pernah saya menyentuh sutra yang tebal atau tipis lebih halus dari tangan rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Saya juga belum pernah mencium bau yang lebih wangi dari bau rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam. Selama sepuluh tahun saya melayani rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, belum pernah saya dibentak atau ditegur perbuatan saya : mengapa engkau berbuat ini ? atau mengapa engkau tidak mengerjakan itu ?” (HR. Bukhari dan Muslim).

Akhlak merupakan tolak ukur kesempurnaan iman seorang hamba sebagaimana telah disabdakan oleh rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam : “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang terbaik akhlaknya.” (HR Tirmidzi, dari abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, diriwayatkan juga oleh Ahmad. Disahihkan Al Bani dalam Ash Shahihah No.284 dan 751). Dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari Abdillah bin amr bin Al ‘Ash radhiallahu ‘anhuma disebutkan : “Sesungguhnya sebaik-baik kalian ialah yang terbaik akhlaknya.”

KEUTAMAAN AKHLAK
Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu mengabarkan bahwa suatu saat rashulullah pernah ditanya tentang kriteria orang yang paling banyak masuk syurga. Beliau shalallahu ‘alaihi wasallam menjawab : “Taqwa kepada Allah dan Akhlak yang Baik.” (Hadits Shahih Riwayat Tirmidzi, juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad. Lihat Riyadus Sholihin no.627, tahqiq Rabbah dan Daqqaq).

Tatkala Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam menasehati sahabatnya, beliau shalallahu ‘alahi wasallam menggandengkan antara nasehat untuk bertaqwa dengan nasehat untuk bergaul/berakhlak yang baik kepada manusia sebagaimana hadits dari abi dzar, ia berkata bahwa rashulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah dimanapun engkau berada dan balaslah perbuatan buruk dengan perbuatan baik niscaya kebaikan itu akan menutupi kejelekan dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR Tirmidzi, ia berkata: hadits hasan, dan dishahihkan oleh syaikh Al Salim Al Hilali).

Dalam timbangan (mizan) amal pada hari kiamat tidak ada yang lebih berat dari pada aklak yang baik, sebagaimana sabda rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam : “ Sesuatu yang paling berat dalam mizan (timbangan seorang hamba) adalah akhlak yang baik.” (HR. Abu Daud dan Ahmad, dishahihkan Al Bani. Lihat ash Shahihah Juz 2 hal 535). Juga sabda beliau : “ Sesungguhnya sesuatu yang paling utama dalam mizan (timbangan) pada hari kiamat adalah akhlak yang baik.” (HR. Ahmad, dishahihkan al Bani. Lihat Ash Shahihah juz 2 hal.535).

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu berkata : Rashulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya orang yang paling saya kasihi dan yang paling dekat padaku majelisnya di hari kiamat ialah yang terbaik budi pekertinya.” (HR. Tirmidzi dengan sanad hasan. Diriwayatkan juga oleh Ahmad dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban. Lihat Ash shahihah Juz 2 hal 418-419).

Tazkiyatun Nufus (Pemurnian Diri/Kultivasi) : Tekhnik Untuk Meraih Akhlakul Karimah **
Sesungguhnya penyucian hati/tazkiyatun nufus, pembersihan jiwa dari kotoran-kotoran yang ada padanya merupakan salah satu hal penting yang karena Allah Ta’la mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam. Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menegaskan hal ini dalam kitabNya yang Mulia,

كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آَيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui”. (QS : Al Baqoroh [2] :151).

Demikian juga firman Allah ‘azza wa jalla dalam kitabNya,

لَقَدْ مَنَّ اللَّهُ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ إِذْ بَعَثَ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus diantara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab dan Al Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS : Ali ‘Imron [3] :164).

Demikian juga firmanNya,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan jiwa mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata”. (QS : Al Jumu’ah [62] :2).

Demikian juga firman Allah Tabaroka wa Ta’ala,

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ . رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ . رَبَّنَا وَابْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang”. “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As Sunnah) serta mensucikan hati mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.”.(QS : Al Baqoroh [2] :127-129).

Demikian juga sabda Nabiyul Islam Muhammad bin ‘Abdillah shollallahu ‘alaihi was sallam melalui sahabat Abu Huroiroh rodhiyallahu ‘anhu,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ (وَفِي رِوَايَةٍ صَالِحَ) الأَخْلاَقِ


“Sesungguhnya aku (Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam) diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia (dalam riwayat yang lain dengan lafadz untuk memperbaiki akhlak)”1.

Ayat-ayat dan hadits di atas tegas menjelaskan kepada kita bahwa salah satu misi diutusnya Rosulullah shollallahu ‘alaihi was sallam adalah untuk mentazkiyah jiwa manusia, memperbaiki dan menyempurnakan akhlak yang mulia.

Kemudian jika ada yang bertanya hadits di atas hanya membicarakan akhlak yang mulia dan bukan membicarakan masalah tazkiyatun nufus ?! maka kita katakan bukankah tazkiyatun nufus akan menghasilkan dan melahirkan akhlak yang mulia dan menyeru untuk memperbaiki akhlak ?

Jika hal di atas belum cukup maka ketahuilah bahwa Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam adalah qudwah/teladan bagi kita dalam semua hal dan beliau adalah orang yang memiliki akhlak yang mulia di sisi para penduduk mekkah terutama kepada para sahabatnya bahkan apa yang beliau shollallahu ‘alaihi was sallam lakukan ini langsung mendapat pujian yang akan dibaca seluruh ummat hingga waktu yang Allah kehendaki, sebagaimana dalam Al Qur’an,

وَإِنَّكَ لَعَلَى خُلُقٍ عَظِيمٍ


“Dan sesungguhnya kamu wahai Muhammad benar-benar di atas akhlak-akhlak yang agung/mulia”.

Demikian juga apa yang dikatakan oleh Ummul Mu’minin ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha,

كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ

“Bahwa Akhlak Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam adalah Al Qur’an”2.

Dan lihatlah apa yang Allah firmankan untuk permisalan apa yang dimisalkan ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha untuk ayat yang semisal di atas,

إِنَّ هَذَا الْقُرْآَنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada yang lebih aqwam”. (QS : Al Isro’ [17] :9).

Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah mengatakan makna (أَقْوَمُ) dalam ayat yang mulia ini adalah [1] yang paling sempurna, [2] yang paling baik, dan [3] yang paling agung nilainya dan kebaikannya3.

Maka marilah kita renungkan hal di atas dan mari berusaha bersama untuk masing-masing individu di antara kita berusaha mentazkiyah jiwa-jiwa kita sebagaimana apa yang diajarkan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam dan lihatlah apa yang dikatakan Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam untuk memotivasi para sahabat dan ummatnya secara umum dalam sebuah bagian yang merupakan bentuk tazkiyatun nafs, yaitu sabar,

مَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ

“Barangsiapa yang berusaha untuk sabar maka Allah akan sabarkan ia”4.

Mudah-mudahan tulisan singkat ini dapat memotivasi kita untuk senantiasa berusaha mentazkiyah diri-diri kita dalam hidup dan kehidupan kita.

** Tulisan ini bersumber dari salah satu fasal dalam kitab Manhajul Anbiya’ fi Tazkiyatin Nafusi oleh Syaikh Salim bin ‘Ied Al Hilaliy hafidzahullah hal. 21-25 terbitan Dar Ibnu Affan dan Dar Ibnul Qoyyim KSA, dengan ringkas dan sedikit tambahan dari sumber lainnya.

1 HR. Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 273, Ahmad no. , Al Hakim dalam Al Mustadrok no. , beliau rohimahullah mengatakan hadits ini shohih sebagaimana syarat Muslim dan disetujui oleh Adz Dzahabiy, hadist ini dimasukkan oleh Al Albaniy rohimahullah dalam Ash Shohihah no. 45, Syaikh Salim Al Hilaliy hafidzahullah setelah mentakhrij hadits ini dalam kitab beliau Manhajul Anbinya’ fi Tazkyatin Nafusi hal. 22-23 menyimpulkan hadits ini sanadnya shohih dengan syawahid.
2 HR. Ahmad no. 24645, hadits ini dinyatakan shohih Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq beliau untuk Musnad Al Imam Ahmad hal. 91/VI , Terbitan Mu’asasah Qurthubah Kairo, Mesir.
3 Lihat Al Qowaidul Hissan Al Muta’alliqu bi Tafsiril Qur’an oleh Syaikh Abdurrohman bin Nashir As Sa’diy rohimahullah hal. 122, dengan tahqiq Syaikh Kholid bin ‘Utsman As Sabt, terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh.
4 HR. Ahmad no. 11106, dinilai shohih oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dalam tahqiq beliau untuk Musnad Al Imam Ahmad hal. 12/II. (alhijroh)

Ket.
State di kamus punya makna beragam. State bisa diartikan wilayah. Istilah state digunakan di kalangan psikologi pertama kali adalah dalam Transactional Analysis untuk menggambarkan keadaan pemikiran , perasaan dan kecenderungan untuk bertindak. Dalam NLP ,STATE atau lengkapnya STATE OF MIND adalah keadaan menyeluruh antara tubuh dengan keadaan neurologisnya yang berupa pikiran, perasaan dan kecenderungan untuk bertindak bahkan tindakan. Baca artikel mengenai konsep pendidikan NAQS DNA untuk peningkatan kesadaran atau State Of Mind yang dilakukan NAQS DNA: Mind State Of Q NAQS DNA
ads
Labels: CAHAYA QALBU

Thanks for reading Perbaikan Akhlak adalah Visi & Misi NAQS DNA. Please share...!

0 Comment for "Perbaikan Akhlak adalah Visi & Misi NAQS DNA"

Back To Top