Rabu, 31 Agustus 2011

Awas Ada Wali Lewat..!!!

Sahabat, tentu sering mendengar ungkapan ini. "Awas ada Wali lewat...". Ungkapan demikian dimaksudkan agar kita hati-hati ketika berbicara sehingga kata-kata kita ataupun sikap dan perbuatan kita tidak sampai berakibat buruk yaitu berbuah kemudharatan, bencana, musibah ataupun nasib sial yang akan kita sesali di kemudian hari. Juga agar kita tidak bersikap sombong dan suka merendahkan orang lain. Karena memang tidak menutup kemungkinan di sekitar kita ada seorang Wali Allah yang tidak kita ketahui keberadaannya karena penampilannnya tidak jauh berbeda dengan orang lain, bahkan mungkin secara duniawi mereka tampak seperti orang yang hina.

Dalam ajaran Tasawuf, Wali Allah mengemban fungsi kosmik yang paling agung, sebab merekalah yang benar-benar dianggap sebagai “ulama pewaris Nabi Muhammad yang sejati.” Mereka mengikuti jejak Nabi Muhammad bukan hanya dalam aspek kemanusiaan dan sosialnya tetapi juga dalam kapasitas spiritual dan esensi ruhaniah Nabi (al-haqiqah Al-Muhammadiyyah). Menurut tradisi Tasawuf, mereka adalah khalifah Allah yang sesungguhnya, wakil Allah di muka bumi. Para wali sangat dekat dengan Allah sehingga penglihatan (visi) mereka tidak berbeda dengan visi Allah—yandzuru bi nurillahi ta’ala, “(mereka) melihat dengan Nur Allah.” Sesuai dengan fungsi kosmis ini, maka Wali-wali Allah memiliki nama atau gelar dan kedudukan tersendiri dengan tugas khusus sesuai dengan kedudukan itu.

Tetapi setiap kali orang berbicara tentang Wali, muncul kesulitan, sebab sudah masyhur dalam tradisi Tasawuf bahwa “hanya Wali Allah yang mengenal Wali Allah.” Karena itu bisa dikatakan adalah tidak mungkin orang awam mengenal Wali. Tetapi, dalam kenyataannya, selalu ada kabar tersiar bahwa Syekh ini adalah Wali, Syekh itu adalah Wali; atau Syekh itu adalah Wali Qutub, Wali Badal, dan seterusnya. Orang bisa mengatakan bahwa seseorang tahu bahwa Syekh A adalah Wali lantaran Wali itu sendiri yang memberitahukan kewaliannya. Dalam kasus seperti ini, biasanya “pengakuan” itu dari syatahat, atau “diperintah” ilham, seperti “Kakiku berada di atas pundak seluruh wali” (Abdul Qadir al-Jailani) “Penutup Kewalian” (Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi), “Aku adalah kutub dari segala yang maujud” (Muhammad Samman).Tetapi persoalan apakah seorang Wali tahu bahwa dirinya adalah Wali masih merupakan perdebatan di kalangan Sufi. Hanya saja perdebatan ini kurang signifikan, sebab argumen yang dipakai dalam soal ini didasarkan pada perbedaan perspektif dan pengalaman masing-masing sufi.

Yang paling lazim adalah seseorang atau orang-orang awam mengetahui kewalian karena ada Wali lain yang sudah masyhur mengatakan bahwa Syekh A adalah Wali. Bukan sesuatu yang aneh jika para Wali saling menyebut sesama Wali dan mengabarkannya kepada khalayak. Tetapi bagi kalangan yang mengingkari adanya martabat kewalian ini, apapun hujah yang disampaikan tidak akan membuat mereka percaya. Ketidakpercayaan kaum yang menyangkal eksistensi wali, karamahnya, barakahnya, dan kedudukannya, bisa dipahami mengingat mereka menyandarkan pandangannya bukan pada tradisi Sufi – dan memang pada dasarnya mereka sudah tidak percaya. Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi, misalnya, mengabarkan kepada kita tentang banyak Wali Allah, yang sebagian adalah guru-gurunya, melalui salah satu risalahnya, Ruh Al-Quds.

Karena itu, pernyataan tersebut di atas akan lebih baik dipahami sebagai “hanya Wali yang mengenal kedudukan Wali.” Kedudukan ini lebih bersifat spiritual, dan karenanya dibutuhkan perspektif spiritual (atau kasyaf) pula untuk mengetahuinya. Misalnya, kita mengenal “Wali Songo,” dan disepakati oleh sebagian masyarakat awam bahwa mereka memang benar-benar Wali Allah. Tetapi, orang-orang awam tak mungkin mengetahui dari sembilan Wali itu mana yang memiliki peringkat lebih tinggi. Kita, orang awam, tidak tahu apakah salah satu dari Wali-wali itu ada yang memiliki kedudukan Qutb, Autad, atau Abdal (tentang maqam Wali ini akan dijelaskan lebih jauh nanti di bawah), kecuali kita diberi tahu sendiri oleh para Wali. Bahkan orang awam kadang juga bingung sebab sering kali ada seorang Wali yang dikabarkan memiliki beberapa kedudukan berbeda. Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi menyebut ada satu jenis Wali yang maqamnya aneh dan membingungkan. Wali ini mengetahui semua detail alam. Karena sekaligus mengumpulkan beberapa kedudukan, Wali jenis ini sulit untuk diklasifikasikan ke dalam salah satu maqam Wali saja. Bisa jadi Wali ini Qutb, atau mungkin juga bukan, hanya Allah dan mereka yang diberi tahu oleh-Nya yang bisa mengenal dengan pasti kedudukannya.

Sering kali sesama Wali bahkan saling memuji dan mengagumi kedudukan masing-masing, dan bukan hal yang aneh jika beberapa Wali menyebut seorang Wali dengan maqam yang berbeda-beda sesuai pemahaman yang mereka peroleh dari kasyafnya. Kebiasaan para Wali Allah yang saling memuji sesama Wali dan menyebut kedudukannya secara berbeda inilah yang juga menambah kesulitan bagi orang awam untuk mengetahui maqam seorang Wali. Tetapi barangkali memang harus demikian adanya, sebab Wali Allah dalam tradisi Sufi kerap disebut sebagai “pengantin Tuhan,” dan karenanya hanya Sang Pasangan dan keluarga dekat-Nya sajalah yang berhak menyingkap tabir penutup wajahnya. Dalam hadis Qudsi dikatakan, “Sesungguhnya Wali-wali-Ku berada di bawah naungan kubah-Ku, dan hanya Aku yang mengenal mereka.” Suku kata akhir dari kata wali, yakni li dalam bahasa Arab berarti “milikku”. Wali Allah adalah kepunyaan Allah dan karenanya juga menyimpan rahasia “Perbendaharaan Tersembunyi” di dalam dirinya.

KISAH WALI TUKANG SAPU
Tiap pagi ia menyapu jalanan pasar. Usianya yang sudah cukup lanjut tidak menyurutkan niatnya untuk “mengabdi” kepada orang banyak dengan caranya sendiri; dengan menjadi juru bersih pasar. Tidak jarang para pedagang di sana meminta tolong kepada sang kakek untuk keperluan bisnisnya. Kakek ini seorang tukang sapu dan sekaligus tukang disuruh-suruh.

Suatu malam, pedagang A meminta bantuan si kakek untuk mengantar barang-barangnya ke suatu tempat. Pedagang A memberi tempo, barang itu mesti sudah sampai sebelum subuh. Sang kakek tak menolak. Di tempat lain, pedagang B meminta tolong hal yang sama. Ia juga memberi batas waktu, subuh hari barang itu harus sudah sampai di tempat. Si kakek mengiyakan. Dan celaka, ketika bertemu dengan pedagang C, kakek itu diminta lagi untuk mengerjakan perintah yang serupa. Juga ada deadline; subuh. Uniknya, lagi-lagi kakek itu menyanggupi.

Bagaimana bisa, pada saat yang bersamaan, barang-barang berbeda harus diantar ke tempat yang saling berjauhan?

Pagi hari, semua barang sudah terkirim ke tujuan. Entah bagaimana mulanya, ketiga pedagang A, B dan C terlibat dalam obrolan. Sampailah ketiganya pada pembicaraan tentang pengiriman barang subuh tadi. Tiba-tiba mereka terhenyak, sebab ketiganya sama-sama meminta bantuan kepada orang yang satu. Bagaimana bisa, barang-barang mereka terkirim pada saat yang bersamaan oleh orang yang sama; si kakek tukang sapu?

Sejak pagi itulah, “pergunjingan” perihal karamah kakek tukang sapu merebak. Manusia yang rendah hati itu tentu bukan orang biasa. Dia tentu kekasih (wali)-nya Allah.

Esoknya, setelah sepanjang hari kemarin para pedagang di pasar sibuk membicarakan karamahnya, si kakek malah tidak muncul. Usut punya usut, ia dikabarkan meninggal dunia. Konon, setelah semua orang tahu akan rahasianya, si kakek bermunajat kepada Allah. Ia berucap, kira-kira, “Ya Allah, karena rahasia-Mu ini sudah tersibak, maka kembalikanlah aku ke sisi-Mu”. Dan permintaannya dikabulkan.

WALI MASTUR
Fragmen cerita di atas mengingatkan kita pada pendapat Sayidina Umar ibn al-Khattab. Menurut beliau, keberadaan para kekasih Allah (waliyullah), akan senantiasa disamarkan (mastur) oleh-Nya. Kita tidak pernah tahu, siapa-siapa saja yang diangkat menjadi kekasih oleh-Nya, seperti kakek tadi, atau malah justru para pengemis, atau orang yang kita nilai gila di jalanan, atau bahkan orang terdekat kita sendiri, atau justru orang yang sedang berada di hadapan Anda sekarang ini (ketika membaca tulisan ini). Allahu a’lam. Pendapat ini diamini oleh banyak ulama, meski beberapa yang lain tidak menyepakatinya (sebab beberapa banyak wali ada yang justru amat jelas terlihat).

Dalam kaitan dengan kekasih-kekasih-Nya yang mastur itu, pelajaran yang kita petik adalah supaya kita tidak gegabah dalam menilai orang, apalagi sembrono menista dan atau mencemooh orang lain. jangan-jangan, orang yang kita nista itu adalah justru kekasih-Nya?

Yang menjadi soal adalah suatu saat Allah berfirman, sebagai Hadits Qudsi; “Barang siapa melukai kekasih-Ku, maka Aku akan balik memusuhinya”. Diceritakan bahwa dulu, ketika Syaikh Abdul Qadir Jailani masih hidup, orang yang menyebut nama beliau tanpa berwudhu, langsung terputus kepalanya. Ini karena, seperti Firman Allah kepada beliau, “Abdul Qadir, engkau mengagungkan Asma-Ku, maka aku pun memuliakan namamu”. Al-hasil, apakah kita memang berniat menjadi musuh-Nya?

Wallahu a’lam bis shawab.

1 komentar:

  1. awas ada wali lewat ini yg di maksud org berbentuk hidup atau gaib hanya roh

    BalasHapus