Menata Hati, Mengukir Nasib.

52. Al Haqq

Dia adalah Dzat yang pasti ada-Nya dalam arti tidak menerima kemusnahan, kebinasaan, dan perubahan; dan semuanya berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya. Kepada makna inilah jatuhnya isyarat yang disebutkan di dalam hadis Nabi saw. yang artinya: “Syair Arab yang paling benar adalah perkataan Labid: Ketahuilah, bahwa semua selain Allah adalah batil.”

Al-Haqq adalah lawan kata dari Al-Bathil. Segala sesuatu itu menjadi nyata dengan lawannya, dan semua yang dlberitakan itu boleh jadi salah semua dan boleh jadi benar semua, serta boleh jadi salah dari satu sisi dan benar dari sisi lain. Jadi, yang berlindung dengan zatnya adalah yang batil mutlak; yang wajib pada zatnya itu adalah yang haqq mutlak; sedangkan yang mungkin pada zatnya dan wajib bagi yang lain, maka dia adalah haqq dari satu segi dan batil dari segi lain. Atas dasar inilah, kita mengetahui bahwa yang haqq mutlak itu adalah yang maujud secara hakiki dengan zatnya, yang semua haqq mengambil hakikatnya darinya. Kita mengetahui, bahwa yang paling haqq di antara yang maujud itu untuk menjadi yang haqq adalah Allah SWT. Dan makrifat yang paling haqq untuk menjadi yang haqq itu adalah makrifat Allah SWT. Sebab, hal ini sesuai dengan ilmu-ilmu azali dan abadi; dan kesesuaiannya hanyalah bagi zatnya, tidak bagi lainnya. Tidak seperti ilmu yang berdampingan dengan keberadaan lainnya. Ilmu tidak selalu ada kecuali selama yang lain itu ada; jika ia musnah, maka ia kembali kepada itikad; dan ilmu seperti itu adalah batil.

Terkadang kata haqq ini dikaitkan dengan ucapan, misalnya: “Perkataan yang haqq (benar),” atau “Perkataan yang batil (salah).” Atas dasar ini, perkataan yang paling haqq itu adalah kalimat la ilaha illallah, sebab ia adalah yang benar, yang abadi, yang azali bagi dzatnya dan tidak bagi yang lainnya.

Para ahli tasawuf yang biasanya tenggelam dalam kefanaan dari sudut zat mereka, maka yang selalu terucapkan oleh lisan mereka dalam segala keadaan adalah ism Al-Haqq. Sedangkan ahli istidlal (mereka yang mengambil dalil dari) af’al, yang terucapkan oleh lisan mereka adalah ism Al-Bari’, yang artinya “Sang Pencipta.” Dan kebanyakkan makhluk melihat segala sesuatu selain-Nya, lalu mereka menjadikan saksi dari apa yang mereka lihat itu, mereka ini adalah yang dituju Allah dengan firman- Nya:

“Dan apakah mereka tidak memperhatikan kerajaan langit dan bumi dan segala sesuatu yang diciptakan Allah …” (QS Al A’raf: 185)

Sedangkan orang-orang shiddiqin, tidaklah mereka itu menyaksikan selain Dia, maka mereka menjadikan saksi dengan-Nya kepada-Nya. Mereka inilah yang dituju firman Allah:

“…Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?” (QS Fushshilat: 53)

Bagian seorang hamba dari ism ini adalah, ia harus melihat dirinya salah dan tidak ada yang dilihatnya itu benar selain Allah. Seorang hamba, sekalipun ia benar, tidaklah benar dengan dirinya sendiri, tetapi dia benar dengan Allah SWT dan maujud dengan-Nya, bukan dengan zatnya sendiri, bahkan dia itu batil dengan zatnya kalau tidak diciptakan oleh Yang Haqq.

Khasiatnya

Bahwasanya orang yang menuliskan ism ini pada sehelai kertas persegi pada keempat sudutnya, lalu diletakkannya pada telapak tangannya di waktu sahur sambil mengangkatnya ke arah langit, niscaya Allah akan melindunginya dari apa yang disusahkannya. Barangsiapa melazimkan membaca La ilaha illallah al-malikul-haqqul-mubin setiap hari sebanyak seratus kali, niscaya akan dikayakan Allah dari karunia-Nya. Dan barangsiapa berzikir dengannya sebanyak seribu kali tiap-tiap hari, maka akhlaknya akan menjadi baik.
ads
Labels: Power Khasiyat Asmaul Husna

Thanks for reading 52. Al Haqq. Please share...!

0 Comment for "52. Al Haqq"

Back To Top