Rabu, 06 Juli 2011

31. Al Lathif

Ism ini berasal dari kata Al-Luthf yang menurut bahasa berarti: kasih-sayang terhadap hamba. Sedangkan Al Lathif di sini artinya Dzat yang Maha Mengetahui akan perkara-perkara yang halus dan kejadiannya masing-masing, dan yang Maha Mengetahui tentang segala sesuatu secara mendetil.

Dikatakan bahwa Al-Lathif adalah Dzat yang pandangan tercegah dari melihat-Nya, pandangan yang terleepas dari kungkungan tempat, sehingga tidak ada satu pun arah atau ruang yang membatasinya. Dia Mahatinggi dari batasan, sehingga Dia tidak diketahui oleh akal dengan pemahaman dan pikiran. Padahal, walaupun demiikian, Dia berada sangat dekat dengan sesuatu dibandingkan dengan zat sesuatu itu sendiri.

Pendapat lain mengatakan, bahwa Al-Lathif itu ialah Dia yang segera menghilangkan kesusahan ketika turun siksaan.

Rasulullah saw. bersabda:

Sesungguhnya pada tiap-tiap kedipan mata, Allah mempunyai pandangan kasih-sayang kepada makhluk-Nya.

Ada pula pendapat lain mengatakan, bahwa Al-Lathif berasal dari al luthf, yaitu menyembunyikan suatu perkaara di dalam kebalikannya, seperti Allah telah menyembunyikan kerajaan Nabi Yusuf as. dalam pakaian seorang budak, sehingga dia berkata:

… Sesungguhnya Tuhanku Mahalembut terhadap apa yang Dia kehendaki … (QS Yusuf: 100)

Di antara keberuntungan seorang hamba dari sifat ini adalah, hendaklah ia bersikap lemah-lembut terhadap hamba-hamba Allah, dan hendaklah ia bersikap ramah dalam menyeru mereka ke jalan Allah dan memberi petunjuk kepada kebahagiaan akhirat tanpa merendahkan atau bersikap kasar dan tidak pula dengan cara bertengkar. Sebaik-baik bentuk kelembutan adalah menarik hati orang lain dengan muka yang manis dan perbuatan yang baik, sebab cara itu lebih berpengaruh daripada perkataan yang dibuat-buat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar