Rabu, 06 Juli 2011

20. Al ‘Alim

Dialah yang meliputi dengan ilmu-Nya segala sesuatu yang lahir, yang batin, yang halus, yang besar, yang permulaan, yang akhir, pembukaannya, dan penutupnya. Ini adalah dari segi kejelasan dan ungkapan yang sesempurna mungkin; tidak ada yang lebih jelas darinya.

Dikatakan bahwa makna Al-Alim itu ialah yang melaksanakan ilmu, yaitu sifat yang qadim yang tegak bersaama Dzat Allah SWT, berkaitan dengan maklumat-maklumat yang wajib, ja’iz dan mustahil. Allah SWT mengetahui Dzat-Nya, asma-Nya, sifat-Nya, dan Dia juga mengetahui apa-apa yang sudah dan akan terjadi dari segala sesuatu yang ja’iz, dan Dia pun mengetahui apa-apa yang mustahil, dan mengetahui apa-apa yang galb. Hanya Allah sendirilah yang mengetahui kapan terjadinya hari kiamat, dan mengetahui apa yang terkandung di dalam rahim, dan mengetahui kapan akan turun hujan, dan mengetahui apa yang akan diusahakan oleh setiap orang dan di negeri mana ia akan mati.

Tidak tertutup kemungkinan bahwa seorang hamba itu mendapatkan bagian dari sifat ilmu ini, tetapi berbeda dengan ilmu Allah dalam tiga perkara. Pertama, dari banyaknya pengetahuan. Betapapun luasnya pengetahuan seorang hamba, hal itu masih terbatas. Bagaimana akan dibandingkan dengan ilmu Allah yang tidak ada ujung dan batasnya? Kedua, bahwa kasyaf (melihat dengan mata batin) seorang hamba itu, bagaimanapun jelasnya, ia tidak bisa mencapai tujuan yang tidak ada ujungnya lagi; penyaksiannya terhadap sesuatu itu ibarat ia melihatnya dari balik tirai yang tipis. Tidak dapat diingkari adanya perbedaan dalam derajat kasyaf itu, sebab pandangan mata batin ibarat mata lahir dalam memastikan segala sesuaatu yang dipandangnya, seperti perbedaan antara melihat di kala remang-remang dan melihat di waktu terang-benderang. Ketiga, bahwa ilmu Allah itu tidak diperoleh dari sesuatu, namun sesuatu itulah yang mendapatkannya dari-Nya. Sedangkan ilmu seorang hamba itu mengikuti sesuatu dan dihasilkan darinya. Jika Anda masih kurang memahami penjelasan ini, maka ambil contoh ilmu seorang yang baru belajar catur dan orang yang membuatnya, misalnya. Si pembuat catur menjadi sebab adanya catur, dan adanya catur itu menjadi sebab ilmunya si pelajar catur. Namun ilmu si pembuat catur lebih dahulu dengan mengadakan catur itu, sedangkan ilmu orang yang belajar catur itu terakhir. Demikian pula halnya deengan ilmu Allah SWT; ia mendahului segala sesuatu dan menjadi sebab baginya.

Khasiatnya

Ism ini berkhasiat untuk mendatangkan ilmu pengetahuan dan makrifat. Barangsiapa berzikir dengannya secara rutin, maka ia akan mengenal Allah dengan sebenarnya yang sesuai dengan-Nya. Dan barangsiapa membacanya seratus kali secara rutin tiap-tiap selesai shalat fardhu, niscaya ia akan menjadi seorang yang ahli kasyaf (yang bisa memandang dengan mata batin) dan memiliki iman yang kuat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar