Rabu, 11 Mei 2011

BIHAQQI Haa miim, ‘Ain Siin Qaaf

Haa Miim ‘Ain Siin Qaaf
Haa miim, ‘Ain Siin Qaaf…,
Lalu Sebutir benih pencerahan telah diletakkan oleh Sang Hidup kedalam dadaku. Kemudian Gerak Sang Hidup telah mengembangkan benih pencerahan itu menjadi tunas kepahaman yang siap mengakar dan mengada dalam kehidupanku.

Ternyata agar aku bisa bermetamorphosis menjadi kupu-kupu rohani yang sempurna, aku terlebih dahulu haruslah mampu mengenali sebuah ketidakbenaran sebagai sesuatu yang betul-betul tidak benar, dan mengenali pula sebuah kesalahan sebagai sesuatu yang benar-benar salah. Kalau tidak begitu, aku akan selalu saja terbawa kealam yang penuh dengan bentuk-bentuk khayalan dan ilusi yang membingungkan.

Ketidakbenaranku selama ini adalah bahwa aku telah menjadikan pikiranku sebagai identitas utama diriku. Kesalahanku yang paling besar selama ini adalah bahwa aku telah terlalu lama menjadi budak dan bahan permainan dari pola pikiranku sendiri.

Akibatnya…
Kesadaranku tercerabut dari Sang Hidup Yang Maha Dekat Dekat…
Keberadaanku menjauh dari Sang Hidup Yang Maha Nyata…
Tali bergantungku terlepas dari Sang Hidup Yang Maha Meliputi…

Sekarang…
Haa miim, ‘Aiin Siin Qaaf…,
Akupun tiba-tiba menyadari keberadaanku…
Aku hanyalah semurni-murninya Ruh milik Allah…
Akupun duduk meringkuk disisi Allahku…
Akupun merunduk bersiap menerima titah dari Allahku.

Haa miim, ‘Aiin Siin Qaaf…,
Dan akupun tinggal bergegas menjalankan titah Allahku…

Haa Miim. `Ain Siin Qaaf…, Demikianlah Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana, mewahyukan (mengilhamkan) kepada kamu dan kepada orang-orang yang sebelum kamu. (Asy Syuura 1-3)

Demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan, dan Allah juga mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (Asy syams7-10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar