Rabu, 23 Februari 2011

Arti Dzikir Dalam Tharekat

Pengertian Dzikir

Ayat-ayat al Qur’an dan hadits-hadits Nabi menyebut kata dzikir dalam beragam makna.

a. Dzikir (dzikir) adalah al Qur’an, sebagaimana terekam dalam surat al Hijr ayat9

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami benar-benar menjaganya.

b. Dzikir adalah shalat jum’at, sebagaimana tertera dalam al Qur’an dalam surat al Jumu’ah ayat 9.

Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan sembahyang pada hari Jum’at, maka bersegeralah kalian menuju dzkir kepada Allah.

c. Dzikir diartikan sebagai ilmu, sebagaimana terekam dalam al Qur’an surat al Anbiya’ ayat 7.

Kami tiada mengutus Rasul sebelum kamu (Muhammad), melainkan beberapa orang laki-laki yang Kami beri wahyu kepada mereka, Maka Tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tiada mengetahui.

Sebagian ahli tafsir berkata, “Yang dimaksud dzikir adalah ilmu tentang yang halal dan yang haram.”

Dzikir adalah lafal musytarak (memiliki lebih dari satu makna), mencakup ilmu, shalat, al Qur’an dan dzikir kepada Allah. Tetapi yang dijadikan sebagai patokan dalam lafal musytarak adalah makna yang paling banyak digunakan berdasarkan kebiasaan. Kebanyakan dalam teks al Qur’an dan Hadits, kata dzikir dimaksudkan sebagai tasbih, tahlil, takbir, dan shalawat kepada Nabi. Allah berfirman dalam surat an Nisa’ ayat 103, “Apabila kalian sudah menyelesaikan shalat, maka berdzikirlah kalian kepada Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring.”

Sedangkan makna selain itu harus disertai dengan petunjuk keadaan atau lafal. Lafal dzikir paling banyak digunakan dalam arti dzikir kepada Allah. Jarang sekali lafal ini dimaksudkan sebagai ilmu sebagaimana dalam firman Allah, “Maka bertanyalah kepada ahli dzikir (orang-orang yang berilmu).” Maksud dari dzikir di sini adalah ilmu, karena adanya petunjuk, yaitu pertanyaan. (Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf)

Dzikir diartikan dengan tasbih, tahmid, tahlil, takbir salawat dan baca al Qur’an ialah seperti firman Allah dalam surat al Anfal ayat 45, “Hai orang-orang yang beriman, apabila kalian memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya.” Dan firman Allah dalam surat al Muzammil ayat 8, “Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.”

Hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda, Allah telah berfirman, “Aku bersama hamba-Ku selama dia berdzikir kepada-Ku dan kedua bibirnya bergerak menyebut-Ku.” (HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Ahmad, dan Hakim) dan hadits yang diriwayatkan dari Abdullah ibn Bisr bahwa seorang laki-laki berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya syari’at-syari’at islam itu terlalu banyak bagiku. Maka beritahukanlah kepadaku sesuatu yang aku dapat berpegang teguh dengannya.” Beliau menjawab, “Selama lisanmu masih basah menyebut Allah.” (HR. Tirmidzi)

Menurut Ibnu Athaillah, “Dzikir adalah membebaskan diri dari sikap lalai dan lupa dengan menghadirkan hati secara terus-menerus bersama Allah." Sebagian kalangan mengatakan bahwa dzikir adalah menyebut secara berulang-ulang dengan hati dan lisan nama Allah, salah satu sifat-Nya, salah satu hukum-Nya, atau lainnya, yang dengannya seseorang dapat mendekatkan diri kepada Allah.

Fungsi Dan Kedudukan Dzikir

Dzikir merupakan dasar untuk setiap maqam yang dibangun di atasnya, sebagaimana fondasi adalah landasan yang akan didirikan di atasnya serupa dinding, bangunan, dan atap. Dzikir membuahkan maqam-maqam dan ahwal yang diupayakan oleh para salik. Karena tidak ada jalan lain untuk meraih buah dzikir kecuali dari pohon dzikir. Setiap kali pohon itu tumbuh besar, maka akarnya akan semakin kuat dan buahnya akan semakin banyak.

Apabila seorang hamba asyik dan tenggelam dengan kelalaiannya, maka dia tidak mungkin dapat menempuh tingkat-tingkat perjalanan yang mengantarkannya untuk sampai kepada makrifatullah. Seseorang tidak akan terhindar dari kelalaiannya kecuali dengan dzikir. Lalai berarti tidur atau matinya hati. Ketaatan para sufi terhadap perintah Tuhan ialah mereka memperbanyak dzikir kepada-Nya, dzikir menjadikan kehidupan mereka seperti kehidupan para malaikat, sehingga dunia tidak pernah terlintas dalam hati mereka, dan tidak melupakan mereka dari berhubungan dengan kekasih mereka, yaitu Allah Swt. Bahkan mereka melupakan kepentingan diri dengan bersimpuh lama-lama di hadapan Tuhan mereka. Mereka melenyapkan segala sesuatu selain-Nya. Mereka selalu mengingat Allah di mana pun mereka berada dalam keadaan berdiri, berjalan, duduk, dan berbaring sebagaimana diungkapkan oleh Allah dalam surat Ali Imran ayat 191

Yang mengingat Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit dan bumi (sambil berkata): “Hai Tuhan kami ! Engkau tidak jadikan ini (semua) tidak sia-sia ! Maha Suci Engkau ! Lantaran itu, peliharalah kami (dari pada) siksa neraka.

Seorang sufi senantiasa berzikir kepada Tuhannya di setiap situasi dan kondisinya. Dengan dzikir itu dadanya menjadi lapang, hatinya menjadi tenang dan rohnya menjadi luhur. Sebab, dia meraih keuntungan dengan menjadi teman duduk Tuhannya. Allah berfirman dalam hadits qudsi, “Ahli dzikir kepada-Ku adalah teman duduk-Ku (HR. Ahmad)”

Orang yang mengenal Allah adalah orang yang senantiasa tekun berzikir dan memalingkan hatinya dari kesenangan-kesenangan dunia yang fana, sehingga Allah menjaganya dan melindunginya dari semua urusannya. Hal ini tidak mengherankan. Sebab barang siapa bersabar, dia pasti akan berhasil. Dan barang siapa yang terus mengetuk pintu, maka pintu itu akan dibukakan baginya.

a. Menurut Abu Qasim al Qusyairi

Imam Abu Qasim al Qusyairi mengatakan, “Dzikir adalah lembaran kekuasaan, cahaya penghubung, pencapaian kehendak, tanda awal perjalanan yang benar dan bukti akhir perjalanan menuju Allah. Tidak ada sesuatu setelah dzikir. Semua perangai yang terpuji merujuk kepada dzikir dan bersumber darinya.”

Dia juga berkata, “Dzikir adalah unsur penting dalam perjalanan menuju al Haq. Bahkan, dia adalah pemimpin dalam perjalanan tersebut. Seseorang tidak akan sampai kepada Allah kecuali dia tekun dalam berdzikir.”

b. Menurut Ibnu Qayim al Jauziah

Ibnu Qayim berkata, “Tidak diragukan bahwa hati dapat berkarat seperti halnya besi dan perak. Dan alat pembersih hati adalah dzikir. Dzikir dapat membersihkannya, sehingga dia menjadi seperti cermin yang bersih. Apabila seseorang meninggalkan dzikir, maka hatinya akan berkarat. Dan apabila dia berzikir, maka hatinya menjadi bersih.

Berkaratnya hati disebabkan dua perkara, yakni lalai dan dosa. Dan yang dapat membersihkannya juga dua perkara, yakni istigfar dan dzikir.

Barang siapa yang lalai dalam kebanyakan waktunya, maka karat di hatinya akan menumpuk sesuai dengan tingkat kelalaiannya. Apabila hati berkarat, maka segala sesuatu tidak tergambar di dalamnya sesuai dengan faktanya. Dia akan melihat kebatilan dalam bentuk kebenaran, dan melihat kebenaran dalam bentuk kebatilan. Sebab, ketika karat hati itu bertumpuk, hati menjadi gelap, sehingga bentuk-bentuk kebenaran tidak tergambar sebagaimana adanya.

Apabila karat hati bertumpuk, maka hati menjadi hitam dan pandangannya menjadi rusak, sehingga dia tidak dapat menerima kebenaran dan tidak dapat mengingkari kebatilan. Inilah siksaan hati yang paling berat. Sumber dari semua itu adalah kelalaian dan mengikuti hawa nafsu. Keduanya menghilangkan cahaya hati dan membutakannya. Allah berfirman dalam surat al Kahfi ayat 28 yang artinya : "Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan keadaannya melewati batas.”

c. Menurut Ahmad Zaruq

Dalam Qawa’id at Tasawwuf, Ahmad Zaruq mengatakan, “Keistimewaan itu terdapat dalam ucapan, perbuatan dan benda-benda. Dan keistimewaan yang paling agung adalah keistimewaan dzikir. Sebab, tidak ada amal anak Adam yang paling dapat menyelamatkannya dari siksa Allah selain dzikir kepada-Nya. Allah telah menjadikan segala sesuatu seperti minuman. Masing-masing memiliki manfaat khusus. Dengan demikian, setiap yang umum dan yang khusus harus diperhatikan sesuai dengan kondisi setiap orang.”

d. Menurut Ahmad Ibn Ujaibah

Ahmad ibn Ujaibah berkata, “Tidak akan terbuka pintu maqam ridla bagi seorang hamba melainkan setelah dia mengerjakan tiga perkara pada fase awal perjalanannya, yaitu :
  1. Dia tenggelam dalam nama tunggal (Allah). Dzikir dengan nama tunggal ini hanya khusus bagi orang-orang yang telah mendapat izin dari seorang mursyid kamil.
  2. Dia bergaul dengan orang-orang yang berzikir
  3. Dia konsisten dalam mengerjakan amal saleh, dan bersih dari noda. Dengan kata lain, dia berpegang teguh pada syariat yang dibawa Nabi Muhammad Saw

Kesimpulannya, para pendidik spiritual dan para mursyid kamil telah menasihati para salik selama dalam perjalanan mereka menuju Allah dan telah menjelaskan kepada mereka bahwa jalan praktis yang dapat mengantarkan mereka untuk sampai kepada Allah dan mencapai ridla-Nya adalah memperbanyak dzikir di setiap keadaan dan bergaul dengan orang-orang yang berdzikir. Sebab, jiwa orang-orang yang berdzikir dapat memutuskan hawa nafsu yang senantiasa mengajak kepada kejahatan. (Abdul Qadir Isa, Hakikat Tasawuf, hlm. 98-100)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar