Menata Hati, Mengukir Nasib.

Kiat Dari Rasulullah Dalam Mensikapi Pujian

Assalamu 'alaikum Wa Rohmatullahi wa barokatuh.......

Sahabat, Pujian yang tulus merupakan penghargaan terhadap yang dipuji. Walaupun hanya berupa kata-kata, tetapi dapat menimbulkan dampak positip yang luar biasa. Seorang yang menerima pujian, tanpa disadarinya menumbuhkan Motivasi untuk menjaga reputasinya. Pembantu dirumah yang menerima pujian atas lantai yang bersih akan lebih bersemangat untuk selalu menjaga agar lantai bersih setiap saat.

Pujian tidak hanya perlu diungkapkan atas prestasi yang baik, akan tetapi dapat dipergunakan sebagai sarana meng koreksi prestasi yang menurun, demikian sehingga tidak ‘ditangkap’ sebagai kritik yang men deskredit kan. Terhadap anak yang menurun prestasi belajarnya di sekolah, ungkapan dapat berbunyi seperti: “mama ingat bagaimana papa begitu bangga dengan hasil ujian mu yang lalu.” Tanpa memarahinya untuk nilai ujian yang menurun. Anak yang mendengar ini tentu ter motivasi untuk kembali berprestasi seperti waktu lalu itu.

Bukan terhadap anak saja pujian memberikan dampak sedemikian, melainkan terhadap setiap orang. Selain sebagai me Motivasi, pujian juga dapat merupakan pelipur lara, menghibur dari kelelahan, menyemangati yang sedang menderita sakit agar lekas pulih, dan sebagainya. Dan yang terlebih lagi, hubungan yang sedang beku pun dapat mencair seketika sebagai hasil kerja suatu pujian.

Namun pujian yang berlebih-lebihan sangat di larang dalam ISLAM. Karena pujian yang berlebihan bersifat tidak tulus dan hanya untuk menjilat atau bahkan menyembunyikan maksud-maksud tersembunyi yang bersifat menipu. Pujian berlebihan akan menjerumuskan orang yang dipuji dalam jurang kesombongan dan kesalahan.

Oleh karena itu bila kita mendapat pujian, ucapkanlah : "Alhamdulilah, Semua kebaikan berasal dari Allah jua."

Mendapat pujian dalam hal apapun adalah dambaan bagi setiap orang, terkadang kita merasa hampa apabila apa yang telah kita kerjakan dan lakukan berlalu begitu saja tak satu orang pun yang memperhatikannya, Rasa capai setelah melakukan sesuatu terkadang bisa hilang setelah selesai dan mendapatkan pujian dengan apa yang telah kita kerjakan, lain halnya apabila kita telah berusaha mengeluarkan kemampuan maksimal kita tetapi pujian tidak kita dapat tapi sebaliknya cemoohan yang datang pastilah kita akan merasa sangat dongkol bahkan bisa kearah putus Asa.

Kritik Bagi sebagian orang adalah bisa membuat alergi dan marah, apalagi kalau kritikan itu terkesan asal kritik tanpa memberikan sebuah solusi, Banyak orang ketika dikritik atas hasil yang Ia capai akan merasa kecewa bahkan bahkan cenderung marah karena merasa apa yang diberikan atau dilakukannya adalah sesuatu yang terbaik yang Dia lakukan, tapi ada sebagian dari kita yang menanggapi kritikan dengan baik karena sebuah kritik adalah koreksi atas hasil kinerja yang telah dilakukan, dan type orang seperti ini akan menjadikan kritik sebagai sesuatu yang bisa membawanya kearah yang lebih baik.

Pujian tidak selamanya akan menjadi madu bagi kehidupan kita bahkan kalau kita terlena bisa menjadikan racun bagi kita, dengan pujian kita akan berpuas diri dan kita lupa untuk berbuat atau berprilaku lebih baik lagi. Kritikan sebenarnya bukanlah racun meskipun rasanya pahit dan tidak mengenakkan hati dan perasaan kita bagi orang yang bisa menerima dengan legowo, kritikan bisa menjadi obat untuk sesuatu yang lebih baik di masa yang akan datang untuk itu kita perlu sangat berhati-hati jangan terlalu bangga apabila kita dipuji dan jangan terlalu bersedih apabila kita dikritik.

Dan dalam hal ini Agar kita dapat menyikapi pujian secara sehat, Nabi Saw. memberikan tiga kiat yang sangat menarik untuk diteladani.

Pertama,
selalu mawas diri supaya tidak sampai terbuai oleh pujian yang dikatakan orang. Oleh karena itu, setiap kali ada yang memuji beliau, Nabi Saw. menanggapinya dengan doa:

اللهم لاتؤاخذني بما يقولون
“Ya Allah, janganlah Engkau hukum aku karena apa yang dikatakan oleh orang-orang itu.” (HR. Al-Bukhari)

Lewat doa ini, Nabi Saw. mengajarkan bahwa pujian adalah perkataan orang lain yang potensial menjerumuskan kita. Ibaratnya, orang lain yang mengupas nangka, tapi kita yang kena getahnya. Orang lain yang melontarkan ucapan, tapi malah kita yang terjerumus menjadi besar kepala dan lepas kontrol.

Kedua,
menyadari hakikat pujian sebagai topeng dari sisi gelap kita yang tidak diketahui orang lain. Karena, sebenarnya, setiap manusia pasti memiliki sisi gelap. Dan ketika ada seseorang yang memuji kita, maka itu lebih karena faktor ketidaktahuan dia akan belang serta sisi gelap kita. Oleh sebab itu, kiat Nabi Saw. dalam menanggapi pujian adalah dengan berdoa:

واغفرلي ما لايعلمون
“Dan ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui (dari diriku)”. (HR. Al-Bukhari)

Dan kiat yang ketiga,
kalaupun sisi baik yang dikatakan orang lain tentang kita adalah benar adanya, Nabi Saw. mengajarkan kita agar memohon kepada Allah Swt. untuk dijadikan lebih baik dari apa yang tampak di mata orang lain. Maka kalau mendengar pujian seperti ini, Nabi Saw. kemudian berdoa:

واجعلْني خيرا ممّا يظنّون
“Dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka kira”. (HR. Al-Bukhari)

Sahabat, Hasil yang efektif dapat terjadi atas setiap orang yang menerima pujian. Ber improvisasi lah dalam memberikan penghargaan, dan pujian hendaklah dilakukan dengan setulus hati agar tidak menjadi boomerang, pancarkanlah cahaya mutiara yang telah keluar dari cangkang yang tertutup. Orang yang sering kita puji akan merindukan kehadiran kita. Menjadi orang yang menyenangkan bagi orang lain tentu lebih baik dari pada menjadi orang menyebalkan.

Wallahu A'lam

SALAM PERUBAHAN DAN SALAM SUKSES..
ads
Labels: Hikmah

Thanks for reading Kiat Dari Rasulullah Dalam Mensikapi Pujian. Please share...!

1 Comment for "Kiat Dari Rasulullah Dalam Mensikapi Pujian"

Back To Top