Menata Hati, Mengukir Nasib.

REJEKI adalah SEMESTA AMANAH

APAKAH REJEKI ITU?
Rejeki adalah “ma-ataka-Allah” (apa saja yang datang kepadamu dari Allah). Rejeki adalah segala sesuatu yang datang kepada 'sang aku' (sang sadar, sang ruh). Ruh yang menyebut dirinya 'aku', ketika dia melihat segala sesuatu (benda-benda, manusia-manusia, peristiwa-peristiwa, situasi-kondisi, dan kemungkinan-kemungkinan) yang datang kepadanya lalu disebutnya sebagai 'milikku'. Segala sesuatu yang dilihat, didengar, dan dirasakan, diletakkannya dalam rangka mencari identitas dirinya.

Dengan kata lain, dalam kehidupan ini ada 2 semesta:
  1. Semesta diri (Dunia Diri, sang aku, sang sadar, sang ruh), dan
  2. Semesta milik (Dunia Milik, segala sesuatu yang datang dari Allah kepada sang aku, disebut rejeki).
Ke dalam dunia diri (sang aku, sang sadar, sang ruh), mula-mula Allah menurunkan rejeki berupa tubuh (wadhak, jasad) yang dilengkapi dengan 'alat-alat canggih'; otak untuk berpikir, hati untuk merasakan, fisik untuk melakukan perbuatan (ungkapan diri).

Selanjutnya, Allah menurunkan rejeki lain yang bersifat gaib. Ilmu, akhlakul-karimah (budi pekerti yang luhur), kesanggupan menahan diri, kesanggupan bertoleransi dan kesadaran untuk berkoeksistensi (kesadaran untuk sanggup hidup bersama orang lain)---- adalah rejeki yang tidak setiap orang memperolehnya.

Betapa banyak orang-orang di sekitar kita yang  :
  • 'yatim ilmu' (tidak memiliki pengetahuan melainkan sedikit), 
  • 'yatim budaya' (tidak mengetahui perkembangan kultural di sekelilingnya); 
  • 'yatim moral' (tidak bisa membawa diri di tengah-tengah masyarakatnya); dan  
  • 'yatim hidayah' (belum mendapat terang di hatinya sehingga perbuatan yang dilakukan tidak membawa nama Tuhannya). 
Jadi, segala sesuatu yang datang kepada sang aku (sang sadar, sang ruh), baik itu bersifat dzahir maupun batin, itulah rejeki - yang secara filosofi disebut 'dunia milik'.

Sesungguhnya, dalam Islam, 'dunia milik' itu tidak ada. 'Dunia diri' (sang aku, sang sadar, sang roh) diakui adanya, namun tidak demikian halnya dengan 'dunia milik'. Orang Islam telah menemukan identitas dirinya sebagai Hamba Allah, maka segala sesuatu yang datang kepadanya tidak dianggap sebagai miliknya sendiri, melainkan sebagai amanah (titipan Allah). Jadi, 'dunia milik' dalam Islam disebut sebagai 'dunia amanah' (semesta amanah).

Sadar bahwa segala sesuatu yang datang kepadanya adalah amanah (titipan Allah), maka di dalam mendayagunakan amanah itu umat Islam tidak sekehendak hatinya. Titipan Tuhan dikelola sebagaimana kemauan Yang Menitipkan; tidak semata-mata dikelola menurut ketajaman intelektualnya atau menurut pertimbangan untung-ruginya, melainkan atas batas-batas (aturan-aturan) dari Yang Menitipkan.

Semesta amanah dalam Islam bahkan tidak hanya terbatas pada benda-benda (materi). Perbuatan-perbuatan baik (amal shaleh) yang dilakukan seorang beriman bahkan tidak diakui sebagai perbuatannya sendiri (miliknya sendiri). Perbuatan-perbuatan baik itu merupakan perilaku Tuhan yang dititipkan pada dirinya.

Demikianlah, maka segala sesuatu yang datangnya dari Allah, baik itu berupa benda-benda, perbuatan-perbuatan baik, bahkan rasa cinta yang dipancarkan dari cinta kasih Allah adalah rejeki dari Allah yang kedatangannya bisa diminta. Rasulullah SAW senantiasa memohon agar perbuatannya selalu mencerminkan cinta kasih Allah kepada setiap hamba-hamba-Nya.

"Ya, Allah. Aku minta cinta kepada-Mu dan cinta kepada orang yang mencintai-Mu. Dan aku minta amalan (perbuatan) yang menyampaikanku pada cinta kepada-Mu."
(Al-Hadits)

"Ya, Allah. Jadikanlah kecintaanku pada-Mu lebih aku cintai dari diriku, keluargaku dan air dingin (pada saat dahaga)."
(Al-Hadits)

PINTU-PINTU REJEKI
Rejeki datang kepada setiap yang hidup. Bakteri, virus, tumbuh-tumbuhan, binatang, dan manusia memperoleh rejeki dari Allah.

"Tidak ada yang merayap di atas bumi kecuali pada Allahlah rejekinya. Dan Dia mengetahui tempat tinggal (habitat) mereka (maka Dia bisa memberi rejeki kepadanya). Dia tahu tempat menyimpan rejekinya. Semuanya itu berada dalam kitab yang nyata (semesta alam ini)." QS. Huud: 6

Tanpa ikhtiar, kita telah memperoleh rejeki dari Tuhan. Sejak spermatozoid berada di indung telur (ovum) sang ibu. Tanpa ikhtiar ditumbuhkannya sperma itu menjadi segumpal darah, lalu menjadi segumpal daging (embrio), dan akhirnya lahir sebagai bayi. Allah menyiapkan air susu ibu sehingga sang bayi langsung bisa memperoleh rejekinya. Rejeki yang diperoleh tanpa harus ikhtiar sebagaimana contoh di atas disebut Rejeki Jatah dari Rabbul'alamin.

Setelah Rejeki Jatah kita terima. Ada rejeki yang hanya bisa diperoleh dengan ikhtiar. Rejeki Ma'isyah (mata pencaharian) diperoleh dengan cara mendayagunakan instrumen yang lebih dulu telah diberikan Tuhan. Akal, pikiran, perasaan, dan fisik adalah alat-alat dari Tuhan yang berguna untuk menggali rejeki yang tersimpan di semesta alam. Inilah rejeki yang harus kita sikapi dengan hati-hati. Sebab, masalahnya bukan bagaimana kita berikhtiar meraih rejeki yang sebanyak-banyaknya. Tetapi, bagaimana kita berikhtiar memperoleh rejeki yang sebersih-bersihnya. Dengan cara yang sebersih mungkin, maka rejeki yang diperoleh tidak sekedar pemberian dari Tuhan, namun lebih dari itu merupakan rahmat dari Tuhan. Tidak semua rejeki adalah rahmat Tuhan. Allah berfirman:

"Apakah mereka yang membagi-bagikan rahmat Tuhanmu? Kami-lah yang menentukan di antara mereka penghidupan (rejeki) dalam kehidupan di dunia, dan Kami tinggikan derajatnya sebagian diantara kamu atas sebagian yang lain, agar dapat saling memanfaatkan (saling membutuhkan). Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan." QS. Az-Zuhruf: 32

Setelah kita mengenal rejeki jatah dan rejeki ma'isyah, ada rejeki lain yang bersifat khusus. Bukan jatah dan bukan pula ma'isyah, tetapi rejeki yang dijanjikan oleh Allah bagi orang-orang yang bertaqwa.

"Barangsiapa bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar (solusi terhadap kesempitan-kesempitannya, masalah stagnasi yang dihadapi dan masalah dilematisnya). Dan diberikannya rejeki dari arah yang tak disangka-sangka (yang tak bisa diprediksi oleh akal)." QS. At-Thalaaq: 2 dan 3

Itulah Rejeki yang Ketiga. Yaitu, rejeki yang hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa. Taqwa berarti melakukan pengembangan lingkungan (transformasi sosial) di segala bidang dengan motivasi ibadah (mengabdi kepada Allah). Orang yang bertaqwa berada dalam kesadaran hidup yang lebih tinggi dari sekedar hidup untuk mencari rejeki (ma'isyah). Maka, Allah berjanji hendak menurunkan rejeki kepada mereka dari arah yang tak terduga-duga.

Jadi, bila orang yang ber-TAQWA berikhtiar untuk memperoleh rejeki, ia memiliki kemungkinan mendapat rejeki melalui tiga pintu. Yakni :
  1. Rejeki Jatah dari Tuhan, 
  2. Rejeki Ma'isyah karena usahanya (berdagang, bertani, menjadi pegawai negeri/swasta dan sebagainya), dan
  3. Ditambah rejeki yang datangnya tidak disangka-sangka. 
Mengapa kita masih keluh-kesah memikirkan rejeki?

"Barangsiapa bertawakkal kepada Allah, maka cukuplah hanya (penilaian) Allah baginya. Sesungguhnya Allah akan menyampaikan urusan-Nya (sehingga kehidupan para mutawakkilin senantiasa dalam dimensi perintah Tuhan)." QS. At-Thalaaq: 2

KEKURANGAN REJEKI
Manakala seseorang berada dalam kondisi kekurangan rejeki, janganlah berkeluh-kesah tentangnya. Ia boleh mohon rejeki kepada Tuhan. Namun, permohonan itu harus dilakukan dengan 'sopan'.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga ia mengubah keadaanya sendiri." QS. Ar-Ra'd: 11

Untuk memahami ayat di atas, kita buat sebuah ilustrasi:
Seseorang memiliki sebuah gelas yang dilengkapi dengan tutupnya. Setiap hari ia menggunakan gelas itu sebagai tempat air teh manis kesukaannya. Sang gelas merasa senang, sebab setiap hari ia bisa bersentuhan langsung dengan sang bibir pemiliknya yang senantiasa mengucapkan "Alhamdulillah" sehabis minum teh. Tutup gelas yang merasa tidak pernah diperlakukan sebagaimana gelas kemudian mengadu. Memohon agar sang pemilik menggunakan dirinya sebagai tempat air teh, bukan sebagai tutup gelas. Dijawab oleh sang pemilik, "Ubahlah dirimu sehingga bentuk fisikmu memadai untuk tempat air, niscaya aku pun akan menggunakanmu sebagai tempat air."

Berdo'a kepada Tuhan, namun tidak disertai dengan Ikhtiar (mengubah cara beraktualisasi diri), berarti tidak sopan kepada Tuhan. Allah telah berfirman bahwa Ia tidak akan mengubah nasib (keadaan) seseorang bila ia sendiri tidak berusaha mengubahnya. Pintu Tuhan tidak bisa hanya diketuk dengan kata-kata. Sebab sang aku (sang sadar, sang ruh) memiliki tubuh. Maka, tubuh pun harus andil melakukan perubahan-perubahan ke arah kehidupan yang lebih berkualitas.

KELEBIHAN REJEKI
Setelah terselenggara tubuh yang sehat, tertutup auratnya, ada tempat istirahat, sungguh itu sudah cukup buat fisik kita. Selanjutnya, tubuh yang wadak harus bisa menjadi medium bagi 'sang aku' (sang sadar, sang ruh) untuk mengungkapkan diri (berbuat sesuatu), yaitu menemukan makna kehadiran dirinya di depan pihak lain. Sebagian dari rejeki yang kita peroleh, kita berikan kepada pihak yang kekurangan. Melakukan tindakan Ihsan (berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepada kita), berarti melakukan kebaikan, namun tidak mengharapkan balasan atas kebaikannya itu, kecuali mengharap ridla Allah. Menghadirkan jiwa kita (semesta diri) kepada Allah, namun apa yang kita miliki (semesta amanah) harus senantiasa diarahkan kepada sesama hidup yang membutuhkan.

Demikianlah cara kita mengelola rejeki (semesta amanah) agar dirahmati Allah. Rahmat Allah, meskipun kecil, namun memiliki kemungkinan-kemungkinan untuk dikembangkan menjadi rahmat yang besar. Itulah rejeki yang berkah.

"Dan tatkala Tuhanmu memaklumkan: Sesungguhnya jika kamu bersyukur (sanggup mengelola rejeki menurut kehendak-Kami), pasti Kami akan menambah kepadamu (kenikmatan, rejeki). Dan jika kamu mengingkari (kufur terhadap rejeki Allah, salah menyikapi), maka sesungguhnya adzab-Ku sangat pedih." QS. Ibrahim: 7

Keberadaan manusia bagaikan di atas roda. Kadang di atas kadang jatuh ke bawah. Manakala ia berada di bawah, lalu ia pandai-pandai berikhtiar dan berdo'a, niscaya Tuhan akan mengangkatnya ke atas. Sebaliknya, bila ia berada di atas, tetapi ia salah dalam menyikapi kondisi itu, Allah tidak segan-segan menurunkan keberadaannya untuk digantikan orang lain.

"Dan hari-hari kejayaan itu dibagikan kepada manusia secara bergiliran." QS. Ali Imran: 140

Orang-orang yang kufur nikmat (yang salah menyikapi rejekinya) dikatakan Tuhan dalam Al-Qur'an, “ia memiliki kehidupan yang sempit”. Walaupun ia mampu mengarungi samudera dan menjelajah angkasa, Tuhan mengatakannya berkehidupan yang sempit. Hanya berputar-putar pada dunia materi, hanya bisa melihat dimensi estetika, dimensi fisikal. Maka, Allah kelak akan membangkitkan mereka di akhirat dalam keadaan buta sebab di akhirat sudah tiada lagi dunia materi. Akhirat adalah dunia ilmu (ilmu mengenal Tuhan), dunia nilai (kemanusiaan, kebenaran, keadilan), dunia moral, dan dunia spiritual - yang tak terlihat kecuali kita sanggup melihatnya mulai saat ini.

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya berkehidupan yang sempit. Dan Kami akan kumpulkan mereka pada hari kiamat dalam keadaan buta." QS. Thahaa: 124

Rejeki dalam Islam bukan dunia milik. Orang Islam telah menemukan identitas dirinya sebagai Hamba Allah. Maka, segala sesuatu yang datang kepadanya bukan dianggapnya sebagai miliknya sendiri, melainkan sebagai amanah (titipan Allah). Semesta amanah harus kita kelola sebagaimana kemauan Yang Menitipkan (Allah).

Semoga bermanfaat.

(diambil dari buku karya Muhammad Zuhri, Hidup Lebih Bermakna yg diterbitkan oleh penerbit Serambi)
ads
Labels: Keajaiban Sedekah

Thanks for reading REJEKI adalah SEMESTA AMANAH. Please share...!

0 Comment for "REJEKI adalah SEMESTA AMANAH"

Back To Top