Rabu, 06 Juli 2011

11. Al Mutakabbir

Artinya yang maha memiliki keagungan dan kebesaran, Dia yang melihat segala sesuatu itu hina bila dibandingkan dengan diri-Nya, dan tidak melihat keagungan dan kebesaran itu kecuali pada diri-Nya sendiri. Dia memandang yang lain seperti pandangan seorang raja kepada hambanya, dan ini tidak terbayangkan secara mutlak dan sempurna kecuali bagi Allah SWT.

Pendapat lain mengatakan, bahwa takabbur dan kibriya’ adalah pemberitahuan tentang hak Allah SWT bagi sifat-sifat agung dan sempurna.

Ism Al-Mutakabbir itu mengumpulkan segala makna tanzih (penyucian). Jadi, barangsiapa mengenal ketinggian, keagungan dan kebesaran Allah, maka ia akan selalu membiasakan dirinya bersikap hina dan merendah.

Rasulullah saw. bersabda:

“Semoga Allah mengasihani hamba yang mengenal kekuasaannya sehingga ia tidak melanggar batasan-batasannya.”

Sifat takabur ini tercela bila dimiliki oleh makhluk, sebab ia tempat bagi kekurangan. Orang yang bersikap sombong pasti dipaksa oleh sikapnya itu untuk bersifat dengan apa yang tidak sesuai dengannya. Dalam salah satu hadits Qudsi, Allah SWT berfirman:

“Sifat Kibriya’ itu adalah selendang-Ku dan sifat Azhamah itu adalah sarung-Ku. Maka barang siapa mencabutnya dari-Ku, niscaya Aku akan memperkenankannya, dan Aku tidak peduli.”

Orang-orang zuhud yang yang mutakabbir (sombong) itu tidak sama dengan sombongnya orang-orang biasa. Sebab, sombongnya orang-orang zuhud itu berarti melepaskan diri dari seluruh makhluk yang akan menyibukkan batinnya. Jadi, ia bersikap sombong terhadap segala sesuatu selain Allah SWT. Dia meremehkan dunia dan akhirat dengan maksud menjauhkan diri supaya keduaanya tidak menyibukkannya dari mengingat Allah SWT Sedangkan zuhudnya orang-orang yang bukan ‘arif itu adalah ibarat suatu mu’amalah (jual-beli); seolah-olah ia membeli kesenangan akhirat dengan kesenangan dunia, ditinggalkannya segala kesenangan yang sedikit di dunia ini guna mendapatkan gantinya yang berlipat ganda di akhirat.

Khasiatnya
Ism ini bersifat mendatangkan kebesaran dan menampakkkan kebaikan serta keberkatan. Karenanya, barangsiapa membacanya sepuluh kali pada malam pengantinnya dan sebelum melakukan jima’ dengan istrinya, maka ia akan dikaruniai anak yang saleh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar