Menata Hati, Mengukir Nasib.

IKHLAS

Kebahagiaan hakiki hanya bisa dicapai bila seseorang sudah berada dalam pengenalan kepada Allah dengan sebenar-benarnya, tanpa ada sedikitpun was-was dan ragu-ragu melainkan keyakinan yang padat melalui ketulusan / keikhlasan hati.

Keikhlasan terbit dari jiwa dan hati yang bersih dari noda-noda dosa dan penyakit-penyakit hati. Pembersihan jiwa dan pensucian hati dilakukan melalui praktek ruhani dalam keseharian.

Teori tentang ikhlas dan kebersihan hati sudah diketahui banyak orang, tapi yang mengetahui bagaimana keadaan dan suasana hati yang dirasakan ikhlas sehingga ibadah pun bisa khusu' dan keadaan khusu' serta suasana hati terasa khusu' pun hanya diketahui oleh segelintir orang yang memang sudah betul-betul faham dan ahli. Mereka itulah Ahli Dzikir, Al Mursyid, Ulama pewaris Nabi yang mengetahui suasana hati itu dan mampu pula membimbing orang lain mendapatkan keadaan khusu', ikhlas, serta segala seluk beluk yang berkenaan dengan jiwa.

Man Yahdillaahi fahuwal muhtad wa man yudhlil falan tajida lahuu Waliyyan Mursyiida (Barang siapa diberi petunjuk maka ia akan mendapatkan Hidayah, dan Barang siapa disesatkan maka tidak akan dipertemukan dengan seorang Wali Mursyid (yang memberi petunjuk)
( QS. Al Kahfi )

SURAT DARI SAHABAT :
Rasul Allah (sal Allahu alaihi wa sallam) said: “Good behaviour towards parents by which one can be courteous to them after their demise are to pray namaz-e-janaza upon them, make dua of forgiveness for them, fulfill their religious bequests, maintain relationship with those relatives linked through them and honour their friends. [Abu Daud] “Charity on their behalf after their death (also) earns reward for them.” [Muslim]

Often we realize the value of something only after it is gone. Allah (subhana wa ta’ala) in His Infinite Grace has provided for us a means to make amends even as late as after the person has already died. This hadith tells us how we can be dutiful to our parents after their death, thereby accruing rewards for both them and ourselves. These ways are:

1. Pray namz-e-janaza for them.
2. Pray to Allah (subhana wa ta’ala) to forgive them.
3. If they had decided to do some religious good e.g. Hajj or nafl fasts or charitable work, then fulfill it on their behalf.
4. Be kind to those relatives who are linked to us through them.
5. Honour their friends.
6. Give charity on their behalf.

Instead of wailing over our parents, if we truly love them then we should do good deeds ourselves. This is because we are sadaqa jaariya for our parents and they are rewarded for our righteousness.

Tidak Menyadari Kesalahan Adalah Suatu Kebodohan

Syaikh Ibnu Atha’illah
Diantara kebodohan murid adalah saat jika ia tidak sopan, kemudian hukumannya ditangguhkan, maka ia berkata, “Seandainya ini adalah ketidaksopanan, maka tentu pertolongan akan diputus, bahkan dijauhkan.” Bisa saja ia tidak menyadari bahwa pertolongan Allah dihentikan, sekalipun hanya berupa tidak adanya tambahan. Bisa pula pertolongan itu dijauhkan darinya tanpa ia menyadarinya, sekalipun hanya membiarkan dirimu dan apa yang engkau inginkan.

Murid yang dimaksud adalah orang-orang yang menekuni makrifat, yaitu mereka yang mempunyai kehendak untuk menuju jalan Allah. Termasuk kita sekarang ini, yang ingin menempuh jalan Kebenaran, jalan Makrifat. Adalah merupakan suatu kebodohan jika kita tidak menyadari akan kesalahan diri sendiri terhadap Allah.

Seumpama kita terlanjur lalai atau berbuat tidak sopan kepada Allah, tetapi kita merasa Allah tidak Menghukum kita. Kita merasa yakin Allah tidak mencabut nikmat-Nya atau tidak menjauhkan nikmat itu. Dan hati menjadi tenang, seraya berkata, “Seandainya aku bersalah tentu pertolongan-Nya dicabut, namun kenyataannya tidak, maka berarti aku tidak bersalah.”

Kita tidak tahu, sesungguhnya orang yang berbuat salah dan pekertinya buruk terhadap Allah, maka Allah tidak serta Menjatuhkan siksa-Nya, tidak serta memutus pertolongan-Nya. Bisa saja tidak kita sadari bahwa pertolongan-Nya itu diputus secara perlahan-lahan. Atau secara halus – nyaris tidak terasa – kita dijauhkan dari nikmat, atau kita tidak diberi tambahan nikmat. Sebenarnya itu adalah peringatan dari Allah, namun karena kebodohan kita, maka kita tidak menyadarinya.

Kebodohan itu jika dibiarkan, semakin lama akan menjebak diri sendiri. Karena setiap kita berbuat tidak sopan – maksiat – selalu saja merasa tidak bersalah. Maka timbullah rasa ujub di dalam hati. Lalu hati tercemar debu-debu dosa yang menghalangi jalan menuju Allah. Hijab yang menghalangi antara diri kita dengan Allah semakin tebal. Dan, na’udzubillah, kita menjadi orang yang tersesat. Perhatikan firman Allah, “Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya (tidak taat) maka sesungguhnya dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata [QS. Al-Ahzab 36]

Maka ketahuilah tanda-tanda orang yang tersesat diantaranya adalah ia merasa berat dan sukar untuk mengerjakan perintah-Nya meskipun sudah berusaha untuk melakukannya, mudah tergoda dan melanggar larangan-Nya meskipun ia berusaha untuk mencegah langkahnya menuju larangan itu, dan ia merasa tidak membutuhkan pertolongan Allah lagi, sehingga ia enggan berdoa.

Sebaliknya, orang yang dibukakan jalan lapang menuju Allah ialah ia merasa ikhlas dan mudah melakukan perintah-Nya, ia tidak mudah terjebak dalam lorong kemaksiatan, dan senantiasa berdoa maupun bersyukur karena tetap merasa membutuhkan Allah, kapan dan dimana saja.

Sumber : Buku Telaga Makrifat Karya Syaikh Ibnu Atha’illah
ads
Labels: Hikmah

Thanks for reading IKHLAS. Please share...!

1 Comment for "IKHLAS"

alhamdulillah....ternyata disitu letak semua masalahnya.....
astagfirullah 3x... ampunkan Hamba Ya, Allah...

Back To Top